Lentera Cerita: Vanil With The First Day Of Fasting 2026
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VIII D yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Vanil With The First Day Of Fasting”
✍️ Karya: Callista Anindya Putri — Kelas VIII C
Selamat membaca
Vanil dan Hari Pertama Puasa
“Vanill!!!”
Suara teriakan itu menggema sampai ke lorong rumah. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan tangga rumah sederhana itu sambil berkacak pinggang.
“Bangun, Vanil!!! Sahur!” teriaknya lagi.
Wanita itu adalah Ibu Aurel, ibu dari Vanil. Sejak tadi ia sudah bolak-balik dari dapur ke tangga untuk membangunkan anak semata wayangnya itu. Di dapur, nasi goreng masih mengepul. Telur dadar sudah siap di piring. Waktu sahur hampir habis, tapi anaknya belum juga bangun.
“Iya Umi…” terdengar suara lemah dari kamar atas.
Dengan malas, Vanil bangkit dari tempat tidur. Rambutnya acak-acakan. Matanya masih setengah tertutup. Sebenarnya Vanil masih sangat mengantuk. Semalam ia tidur hampir jam dua karena bermain game bersama teman-temannya. Tapi ia tahu satu hal kalau sampai membuat Umi marah… urusannya bisa panjang. Vanil perlahan berjalan menuju tangga, namun baru beberapa langkah Ia melihat sofa empuk di ruang keluarga.
“Cuma duduk sebentar…” gumamnya.
Tanpa sadar, Vanil langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Lima menit berlalu. Tujuh menit berlalu. Dan… Vanil tertidur lagi. Sementara itu di dapur, Ibu Aurel mulai gelisah.
“Ini anak ke mana sih?”
Sudah tujuh menit sejak Vanil menjawab panggilan tadi, tapi tidak juga turun. Akhirnya Ibu Aurel melepas celemeknya dan berjalan menuju ruang keluarga. Begitu sampai di sana…
“Astaghfirullah… VANIL!”
Vanil sedang tidur pulas di sofa padahal waktu imsak tinggal sebentar lagi.
“Vanil! Ya Allah, Vanil!”
Vanil langsung terbangun kaget.
“Iya Umi! Ini Vanil sudah bangun!”
Ibu Aurel hanya bisa mengelus dada melihat tingkah anaknya.
“Bangun. Cuci muka dulu sana, baru sahur. Umi tunggu di bawah.”
“Siap, Umi…”
Dengan langkah malas, Vanil berjalan ke kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya. Sedikit demi sedikit rasa kantuknya hilang. Setelah itu ia segera menuju meja makan. Di meja makan sudah ada nasi goreng, telur dadar, dan segelas susu hangat. Vanil langsung duduk di depan Umi.
“Umi, Abi belum pulang?” tanya Vanil.
“Abi pulangnya nanti siang. Ada kerjaan di luar kota.”
Vanil mengangguk.
“Sudah, makan dulu. Oh ya…”
Ibu Aurel menatap Vanil dengan serius.
“Besok kalau bangunnya susah lagi, Umi siram pakai air.”
Vanil langsung tersentak.
“Jangan dong Mi! Masa Umi tega sama anak Umi yang paling ganteng ini?”
Ibu Aurel tersenyum tipis.
“Jangan kepedean. Gantengan juga suami Umi.”
Vanil langsung memasang wajah datar.
“Iya deh… si paling bucin.”
Ibu Aurel tertawa kecil.
“Sudah, makan dulu. Keburu imsak.”
Vanil mengambil sendok dan hendak menyuapkan nasi.
“HEY!”
Vanil kaget setengah mati.
“Apaan sih Mi?!”
“Tadi katanya disuruh makan!”
“Doa dulu sebelum makan!” omel Umi. “Umi ajarin dari kecil masa lupa?”
Vanil langsung nyengir.
“Hehe… maaf Umi.”
Ia lalu membaca doa sebelum makan.
Pagi Hari di Empang
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Setelah sholat Subuh, Vanil berjalan menuju empang di belakang rumah. Biasanya setelah subuh ia suka naik motor keliling kampung untuk menikmati udara pagi. Tapi pagi ini motornya tidak ada. Motor itu dipinjam oleh dua sepupunya Mas Devan dan Mas Shanil. Motor mereka berdua sedang di bengkel, jadi mereka meminjam motor Vanil, awalnya Vanil menolak tapi kedua sepupunya itu berjanji akan membelikan es krim saat buka puasa. Dan Vanil tidak bisa menolak janji es krim.
Sekarang Vanil duduk di pinggir empang sambil memandang air, seekor ikan meloncat, angin pagi berhembus pelan tapi Vanil justru terlihat serius Ia sedang melamun memikirkan masa depan.
“Kalau sudah besar… gue mau jadi CEO,” gumamnya.
Lalu ia berpikir lagi. CEO seperti apa yang tiap hari kerjanya mengambil mangga tetangga. Vanil menghela napas.
“Ah sudahlah… namanya juga remaja.”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Woi, Vanil!”
Vanil menoleh. Ternyata Mas Shanil dan Mas Devan.
“Ngapain lo di sini?” tanya Devan sambil duduk di sampingnya.
Vanil mengangkat bahu.
“Enggak ngapa-ngapain.”
Shanil ikut duduk.
“Oh ya Nil… tadi Mas lihat cewek yang lo suka jalan sama orang lain.”
Vanil langsung menoleh cepat.
“Hah?!”
“Mas lihatnya di mana?” tanya Vanil cepat.
Devan tersenyum jahil.
“Kenapa? Cemburu?”
“Emang punya hubungan?”
Vanil menatap tajam.
“Jahat.”
Devan tertawa. Vanil menghela napas panjang.
“Mas itu gak tau rasanya lihat cewek yang kita suka jalan sama orang lain…”
“Sakit, Mas. Sakit!”
Ia memegang dada dengan dramatis.
Shanil dan Devan langsung menjawab bersamaan.
“LEBAY!”
Nongkrong di Warung Bu Runa
Siang harinya, Vanil pergi ke Warung Bu Runa. Tempat itu adalah markas nongkrong Vanil dan teman-temannya. Biasanya mereka makan mendoan hangat sambil bermain game. Tapi karena sedang puasa, hari ini mereka hanya bermain game saja.
“JUNA! BANTUIN! DIEM AJA LU!” teriak Vanil.
“Ya sabar dong!” balas Juna kesal.
Di meja warung, ada empat orang remaja Vanil, Juna, Esa dan Akmal. Mereka sudah berteman sejak kecil. Tiba-tiba Akmal tersenyum aneh.
“Guys… mau ikut gak?”
“Ke mana?” tanya Juna.
Akmal mendekat.
“Gue mau… mokel.”
Semua langsung diam. Vanil, Esa, dan Juna menatap tajam ke arah Akmal.
“Gila lo, Mal,” kata Vanil.
Untung saja Bu Runa sedang tidak ada. Kalau ada, pasti Akmal sudah diceramahi panjang lebar.
“Tenang aja,” kata Akmal santai.
“Gak bakal ketahuan.”
Juna terlihat ragu.
“Emang aman?”
“Kalau sama gue mah aman.”
Juna berpikir sebentar. Lalu berkata,
“Ya udah… gue ikut.”
Vanil langsung menghela napas kesal. Akmal lalu menoleh ke Vanil dan Esa.
“Kalian ikut gak?”
Esa menyenggol Vanil.
“Gak ah. Mending ngapelin ayang.”
Vanil hanya mengangguk. Akmal langsung tertawa.
“Emang Vanil punya?”
Vanil langsung menatap tajam.
“Emang lo juga punya?”
Di antara mereka berempat, hanya Esa yang sering dapat perhatian dari cewek sering diberi cokelat, bunga atau surat cinta. Juna tiba-tiba berkata,
“Heh! Apa bedanya mokel sama ngepelin ayang?”
“Sama-sama dosa.”
Esa langsung menjawab,
“Daripada hari pertama puasa sudah mokel!”
“Ah sama aja,” kata Juna.
“Mending mokel.”
“Bilang aja lo iri karena gak laku,” balas Esa.
Vanil yang sudah kesal akhirnya memukul meja.
“UDAH!”
Semua langsung diam.
“Kalau sama-sama dosa gak usah diributin!”
“Untung lagi puasa. Kalau enggak, sudah keluar ini kata-kata mutiara dari otak gue.”
Semua langsung tertawa kecil. Tiba-tiba Akmal menyalakan motornya.
“Ayo Jun. Jadi gak?”
Juna berdiri. Vanil hanya memandang mereka, tanpa sadar, perasaan Vanil menjadi tidak enak
Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, namun ia tidak bisa memaksa temannya. Dan ia tidak tahu hari pertama puasa ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah ia lupakan.
Kejadian yang Mengubah Segalanya
Sore hari saat sedang duduk di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Ternyata Devan dan Shanil datang dengan wajah panik.
“Vanil!” kata Devan.
“Ada apa?” tanya Vanil.
“Juna dan Akmal ketahuan mokel di warung belakang.”
“Hah?”
“Mereka dimarahi pemilik warung. Bahkan hampir dilaporkan ke orang tua mereka.”
Vanil terkejut. Beberapa saat kemudian ponsel Vanil berbunyi.
Pesan dari Juna.
“Nil… gue nyesel.”
“Tadi gue batalin puasa.”
“Sekarang gue merasa bersalah banget.”
Vanil terdiam lama. Ia lalu melihat ke arah dapur di sana Umi sedang menyiapkan makanan untuk buka puasa. Tiba-tiba Vanil teringat sesuatu. Teringat bagaimana Umi membangunkannya sahur. Teringat bagaimana Umi menyiapkan makanan dengan penuh perhatian. Dan tiba-tiba Vanil merasa malu. Selama ini ia sering menganggap puasa sebagai hal biasa. Padahal ada banyak orang yang berusaha keras untuk menjalaninya.
Saat Berbuka
Ketika waktu magrib tiba, Vanil duduk bersama Umi dan Abi di meja makan. Suasana terasa hangat.
“Alhamdulillah, akhirnya buka puasa,” kata Abi.
Vanil tersenyum kecil. Hari ini ia berhasil menahan lapar dan haus. Namun yang lebih penting, ia belajar sesuatu. Setelah makan, Vanil mengirim pesan kepada Juna.
“Besok kita puasa lagi bareng.”
“Jangan menyerah cuma karena satu kesalahan.”
Juna membalas.
“Makasih Nil.”
“Besok gue coba lagi.”
Vanil tersenyum. Ternyata saling mengingatkan dalam kebaikan itu terasa menyenangkan.
Bagi Vanil, hari pertama puasa itu menjadi awal dari pelajaran penting tentang tanggung jawab, persahabatan, dan kejujuran. Teman yang baik adalah teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan yang mengajak melakukan hal yang buruk. Kesalahan memang bisa terjadi, tetapi yang terpenting adalah kita mau memperbaiki diri dan mencoba menjadi lebih baik. Karena terkadang, sebuah perubahan besar bisa dimulai dari satu hari sederhana.
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
