Lentera Cerita: Bukber Serasa Uji Nyali
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas IX F yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Bukber Serasa Uji Nyali”
✍️ Karya: Surya Fahri Aji Pratama — Kelas IX F
Selamat membaca
Suatu hari di bulan Ramadhan yang penuh berkah, kelas 9F mengadakan acara buka bersama satu kelas di rumah teman saya Shela. Saya sangat bersemangat sekali dikarenakan bukber kali ini adalah bukber terakhir kalinya. Sebelum kita melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Jadi bukber kali ini buat kenangan kita bersama. Pada pukul 15.00 WIB saya sedang asyik bermain hp, lalu muncul sebuah notifikasi pesan Whatsapp. Ternyata Itu dari grup kelas, Sydney berkata, “Teman-teman nanti datang ke rumah Shela nya lebih awal ya sekitar jam 15.30-16.00 WIB, dikarenakan nanti takutnya kalau hujan.” Setelah membaca pesan itu saya berencana berangkat jam 16.00 WIB jadi saya mulai siap siap agak santai sedikit. Setelah itu ketika saya sedang bersiap-siap untuk berangkat sekitar pukul 15.45 WIB cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba hujan deras. Lalu saya membuka HP dan membuka WhatsApp untuk mengecek apakah acara bukbernya jadi atau tidak. Ada salah satu teman saya bertanya di grub kelas “ ini bukbernya jadi atau tidak soalnya hujan?”. Dan teman saya Sydney membalasnya : “Jadi, soalnya makanan dan minumannya sudah di sediakan”. Dikarenakan hujannya deras saya pun menunggu hujan itu agak reda. Namun, hujan itu tak kunjung reda hingga jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Hujan sore itu turun seperti langit sedang menumpahkan isi hatinya. Saya berdiri di depan rumah dengan kebingungan yang menggantung di kepala antara menunggu hujan reda atau menerjangnya seperti pejuang yang nekat melawan takdir. Tetes demi tetes air jatuh ke tanah, seolah menjadi tasbih alam yang tak henti menyebut nama Tuhan. Ibu yang melihat saya gelisah lalu berkata, “Dek, tunggu saja dulu hujannya reda, nanti kamu bisa sakit.” Nasihat itu terdengar seperti pengingat sederhana bahwa tidak semua hal harus dilawan, sebagian hanya perlu ditunggu dengan sabar. Maka saya pun menunggu, sementara waktu berjalan pelan seperti santri yang berjalan menuju masjid. Hingga akhirnya jarum jam berhenti di angka 17.30 WIB.
Keberanian itu akhirnya datang juga. Saya mengenakan jas hujan dan menyalakan Mio Mber kesayangan, yang bagi saya terasa seperti kuda perang sederhana di medan petualangan kecil sore itu. Mesin pun meraung pelan, seakan ikut membaca basmalah sebelum kami berangkat Tujuan pertama adalah rumah teman saya. Namun ketika sampai, ia ternyata masih bersiap-siap. Saya pun menunggu sekitar lima menit, berdiri di sana seperti jamaah yang menunggu iqamah tidak lama, tapi cukup membuat waktu terasa memanjang.
Setelah ia siap, kami pun melaju menuju rumah Shela untuk menghadiri buka bersama. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu seperti bintang yang jatuh ke bumi. Tapi di tengah perjalanan, cobaan kecil datang: motor saya mulai “haus” karena bensinnya hampir habis. Kami berhenti di sebuah tempat untuk membeli bensin. Saya turun dari motor dan hendak membuka tutup tangki. Namun tiba-tiba listrik padam. Gelap menyergap seketika, seperti seseorang mematikan saklar langit. Tempat itu mendadak sunyi, dan rencana membeli bensin pun gagal. Tak ada pilihan selain melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan yang lembap sambil berharap menemukan warung yang menjual bensin eceran. Harapan itu kami bawa seperti doa yang dipanjatkan diam-diam di dalam hati. Namun seolah ingin menambah cerita, ujian kecil kembali datang. Jas hujan yang saya pakai tiba-tiba robek di bagian leher. Kupluknya tak lagi bisa menutup kepala dengan baik. Hujan pun mulai menyelinap masuk, menetes ke wajah seperti pengingat halus bahwa manusia memang sering merencanakan banyak hal, tetapi pada akhirnya tetap berjalan di bawah skenario Tuhan.
Akhirnya, di antara jalanan yang basah dan langit yang masih murung, kami menemukan warung kecil yang menjual bensin eceran. Rasanya seperti menemukan seteguk air di padang perjalanan. Tanpa banyak pikir, kami langsung membeli bensin itu. Setelah tangki terisi, teman saya mengecek ponselnya ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.55 WIB. Kami pun langsung bergegas menuju rumah Shela, melaju di jalanan yang gelap karena mati lampu, dengan jas hujan robek yang berkibar seperti bendera pasrah kepada takdir Tuhan. Sesampainya di rumah Shela, jam sudah menunjukkan pukul 18.01 WIB. Adzan Maghrib
pun hampir tiba. Kami akhirnya berbuka dengan Rocket Chicken dan segelas es teh jumbo. Di luar hujan masih turun deras, listrik belum juga kembali, dan hanya cahaya lilin kecil yang menemani. Lilin itu berdiri diam seperti saksi sederhana: melihat perut-perut lapar yang sejak sore menunggu adzan, serta baju-baju basah yang seolah baru saja “dimandikan” oleh langit. Setelah berbuka, kami langsung melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Uniknya, teman saya yang terkenal paling nyeleneh justru menjadi imam. Ia berdiri di depan seperti pemimpin pasukan kecil yang tiba-tiba diberi amanah besar. Namun di tengah ia membaca Al-Fatihah, beberapa teman cowok malah tertawa kecil karena mendengar suaranya yang khas.
Saya yang awalnya khusyuk mulai merasa kesal. Dalam hati terlintas pikiran sederhana: ibadah seharusnya bukan panggung candaan, melainkan tempat manusia merapikan hubungannya dengan Tuhan. Setelah salat selesai, kami segera berfoto bersama di depan rumah Shela. Langit masih tampak seperti ember raksasa yang siap ditumpahkan lagi kapan saja, jadi kami berpacu dengan waktu sebelum hujan kembali mengguyur. Setelah sesi foto selesai, suasana perlahan berubah sunyi. Satu per satu teman berpamitan pulang, seperti burung yang kembali ke sarangnya setelah senja turun. Namun tiba-tiba suasana yang mulai sepi itu kembali pecah oleh kedatangan seorang teman dengan penampilan yang luar biasa nyeleneh. Ia datang memakai helm bogo, kacamata hitam, baju koko putih, dan sarung perpaduan yang terlihat seperti ustaz yang tersesat dari rombongan balap motor. Ternyata ia datang hanya untuk mengambil Rocket Chicken dan es teh miliknya yang tertinggal. Tapi teman-teman tidak membiarkannya langsung pulang. Ia dipaksa secara persaudaraan untuk masuk dulu ke rumah Shela. Akhirnya ia masuk, lalu dengan santai memakan sisa jajanan yang masih ada seolah sedang menuntaskan rezeki yang tidak boleh disia-siakan.
Setelah perutnya kenyang, ia pun berpamitan kepada Shela untuk pulang. Namun sebelum benar-benar pergi, ia membantu membersihkan rumah terlebih dahulu. Dalam hati saya rpikir, kadang orang yang paling terlihat nyeleneh justru diam-diam membawa pelajara sederhana: bahwa setelah menikmati rezeki, manusia juga harus meninggalkan tempat dengan keadaan yang lebih baik daripada saat ia datang.
Hikmah yang saya dapat dari kejadian itu adalah bahwa rencana manusia kadang seperti jas hujan yang robek—tidak selalu bisa menahan semua masalah. Dalam perjalanan yang penuh hujan, gelap, dan bensin yang hampir habis, saya belajar untuk tetap sabar dan tidak mudah mengeluh. Kebersamaan dengan teman membuat perjalanan terasa lebih ringan. Dari situ saya juga sadar bahwa ibadah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan dari teman yang paling nyeleneh pun kita bisa belajar tentang kebaikan dan tanggung jawab.
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
