Lentera Cerita: Satria Legenda-Nurvalen
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas IX H yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Satria Legenda-Nurvalen”
✍️ Karya: Arga Putra Waskita — Kelas IX H
Selamat membaca
Dahulu kala, dunia abu-abu oleh kesengsaran dan penyiksaan dari kegepalan, mereka menghapus warna dan senyuman dari wajah para insan, mereka di sebut sebagai Andromeda—bayang yang datang jauh dari masa depan. Namun, cahaya tidak hanya tinggaldiam, mereka menurunkan pejuang yang datang dari masa lalu, meminjam kekutan dari kisah yang sudah terkubur debu waktu. Bertarung tanpa perlu di kenang, mereka adalah SatriaLegenda. Setelah peperangan usai, baik Andromeda maupun Satria Legenda tak pernah laginampak pada mata dunia. Sebagian orang percaya bahwa mereka telah punah, namun
sebagian lainnya meyakini bahwa mereka masih bertarung untuk waktu yang lama. Dan kini…cerita berfokus pada kisah seorang pengembara, tanpa ingatan dan tujuan, berbekal kekuatan yang ia bawa dalam menyelamatkan dunia.
——
Matahari terbit dari timur bukan bersama kesepian melainkan iringan harmonica yangdimainkan sepasang tangan kasar. Angin membawa not not layaknya menceritakan kisah seorang pengembara diantara fajar, mengibarkan jaket kulit berwarna coklat dengan topifedora yang menutupi setengah parasnya.
Langkah pria itu terhenti, mendongak. Harmoni pecah begitu seekor monster melirikkearah nya, memiliki tubuh setengah singa dengan tulisan “Amarah” di dada nya. “Woi monster jelek!” teriak pria itu lantang seraya memasukkan Harmonika ke dalamsaku jaketnya. “Aku kira di bulan puasa tidak akan ada iblis, sepertinya kau lepas dari kandang mu ya” “Sudah waktunya untuk dirimu pulang” tangan kanan mengangkat sebuah kotak kecil berwarna putih mirip seperti buku. Tangan kiri mengambil kartu bergambar langit malam dengan geometri Islamic dan pena kaligrasi bercahaya di tengah nya.Kartu pertama di masukkan ke dalam buku, “Cahaya yang datang dari sebuah kisah, Al-Hikmah” seru suara robotic dari kotak itu. Kartu lain diangkat, bergambar badai pasir yang berputar mengelilingi sebuah pedang. Kartu kedua juga turut di masukkan ke dalam buku, “Keberanian dalam jiwa, Al-Mujahid” Pria itu menutup buku dengan cahaya biru yang terpantul keluar, “Legend Up!” tangan nya mendorong ke dada kiri tepat di hati, “Transform!” Crettt—cling! Kawat-kawat baja muncul dari sela-sela kotak, bergerak dan bersatu untuk menyelimuti tubuh pria itu. Kain hitam pekat menutupi bagian lengan dan paha yang masih nampak, sementara bagian lainnya terpasanga armor putih suci bercahaya dari pantulan fajar yang bersinar. Kaligrafi biru terlukis di dada, kepala tertutup helm layaknya seorang kesatria dengan perkamen rembulan yang tertempel di sana. “Satria Nurvalen : Courage tales” “Waktunya menulis cerita diatas kanvas dunia” tangan kanan merentang untuk memunculkan pedang. Nurvalen melompat tajam, mengayunkan pedang secara vertical—monster itu menangkis, membanting sang kesatria ke tanah. Pria itu berguling, mengambil jarak aman sebelum berputar di udara menciptakan lingkaran cincin tajam, menggores fisik si monster. Roarr!—sang sianga meraum. Nurvalen tak berhenti, gagang pedang ia turunkan ke bawah membentuk pegangan pistol, “Snipe mode” jari menekan pelatuk dan cahaya keluar seperti bintang jatuh, membentuk tulisan arab yang membakar lawan. “Ayo kita akhiri ini” Nurvalen hendak menekan buku pada dadanya, namun tiba tiba—kehh! Desiran angin mengamuk dan menebarkan debu pada matanya. Monster itu mencoba kabur, “Hei tunggu!” tangan nya merentang saat si raja hutan sudah menghilang. Langkah sedang dia ambil, di depan sana ada sebuah kota besar, kemungkinan monster itu bersembunyi di sana. Nurvalen mengambil buku pada dadanya, kembali ke wujud normal sebelum akhirnya kembali mengenakan topi dan berjalan membelakangi kamera.
——
Kota ramai dengan suara-suara orang yang saling bercengkrama, beberapa ada yang bergegas untuk ke tempat kerja namun ada pula yang sempat-sempatnya diam diam membatalkasn puasa. Disinilah dia berada, Nia, seorang gadis berumur 19 tahun yang tengah bersiap-siap di depan cermin. Hijab ia kenakan dan tas sangkul ia bawa, tak lupa mengenakan liontin emas berbentuk bulan sabit—pemberian orang paling berharga pada hidupnya. Ia mendorong gerobak berisi takjil keluar rumah. Nia berangkat dulu ya bu, Assalammualaikum!” Ujar gadis itu dengan lambaian cepat, pergi dengan sejuta senyuman untuk menebarkan kebahagiaan. Nia adalah anak yatim yang sudah ditinggal pergi oleh ayahnya semenjak berusia 10 tahun, putus sekolah semenjak lulus SMP—kini bertahan hidup dengan menjual dagangan di alun-alun kota. “Hai Nia” satu sapaan lembut dari teman nya, Nia melambai. Seorang ibu-ibumengangkat lekukan bibir, “Wah mau jualan lagi ya?” Nia tersenyum tipis, menggangguk pelan, “Iya bu”. Pandangan nya kembali berputar namun di sana sudah ada bapak-bapak yang membaca koran, “Semangat ya, Nia”.
Layaknya bidadari yang turun dari surgawi, itu adalah Nia, memiliki paras cantik nan hati yang lembut, di sukai oleh kebanyakan orang di sana. Langkahnya berhenti tepat di alun alun kota, membuka paying besar serta merapikan dagangan nya. Suasana sore hari sangat tenang apalagi saat bulan Ramadhan, begitu banyak insan yang bertebaran untuk membeli makanan guna menu berbuka nanti. Nia meregangkan tangan keatas, “Oke, sekarang waktunya kerja!” seru nya penuh semangat. Satu jam, dua jam, perlahan-lahan dagangan mulai terlahap oleh rombongan.Bakwan dan mendoan yang semula berjajar kini menyisakan minyak diatas nampan, sementara es buah yang tadi terlihat begitu segar sudah digantikan oleh uang yang Nia dapatkan.
Diantara suraian senja, senyuman licik tertuju kepada Nia. Namun…siapa mereka? Ting! Sebuah notif muncul di HP gadis itu. Nia tersenyum tipis, itu pesan dari ibuya. Ibu Nia : “Nak, gimana jualan nya hari ini?” Nia : “Aman kok bu, nih Nia baru mau rapiin dagangan” Gadis itu merubah posisi kameranya menjadi kamera depan, memotret dirinya beserta dagangan yang sudah habis bersih, mengirimkan kepada ibunya. Senyuman bahagia tak bisa wanita itu tahan saat melihat putrinya begitu penuh senyuman walaupun harus melewati hidup yang begitu mengerikan. Jujur saja, hati ibu Nia terasa nyeri setiap kali melihat wajah anaknya, Nia bisa saja menjadi pramugari dengan bakatnya yang luar biasa. Namun…keterbatasan biaya membuat semuanya berubah. Kini Ibu Nia hidup dalam penyesalan, menyesal…karena tak mampu memeluk impian putrinya itu, membiarkan cahaya tersebut pergi dari kehidupan Nia untuk selama-lama nya. Ibu Nia : “Yaudah kamu hati-hati di jalan ya” Nia : “Oke bu!” Dirinya memasukkan ponsel ke dalam tas, merapikan dagangan dan hendak pergi.
Tak! Sentuhan kasar menarik lengan gadis itu. Nia berbalik, matanya melebar ketakukan saat melihat sekumpulan preman menyeringai kepadanya. “K-Kalian mau apa…” tanya nya dengan nada rendah. Tak ada jawaban, tatapan mereka tertuju pada liontin bulan sabit milik gadis itu—bekilau emas murni. Satu preman hendak mengambil nya namun tamparan keras menjauhkan tangan nya. Preman itu berdecak, “Tch, kurang ajar!” Orang-orang tak berani bergerak, komplotan mereka beberapa ada yang membawa sajam, membuat kericuhan di tengah pasar. Preman tadi mengepalkan tangan, hendak memukul Nia. Akan tetapi… Flip!—seluruh pandangan tertuju pada arah jalanan. Melodi Harmonika di mainkan oleh sepasang tangan pengembara, melangkahkan kakinya di hadapan sang senja. Topi fedora menutupi setengah parasnya, hanya menyisakan seringai tipis yang mengembang saat alunan nada pecah. “Lepaskan gadis itu” ujarnya singkat. “Siapa kau?? Tidak usah ikut campur!” Satu tangan melayang ke samping—Pak! Tangkisan presisi mengubah aras lajunya, pria itu menendang perut sang preman hingga pingsan. “…..” Hening sesaat. Satu lainnya melaju, mengayunkan pisau secara brutal. Swing!—tubuh si pengembara menghindar ke samping, memukul kuat pergelangan preman menggunakan pisau tangan. Sajam terlepas dan preman itu terjatuh ke tanah. Yang terbesar menggertakkan gigi, menyerang dengan pukulan besar. Pria itu merunduk ke bawah, cukup untuk topinya terhuyung angin. Tangan nya mengepal, saat tinjuan preman itu melewati kepalanya, pukulan tajam dan keras menghantam dagu nya keras, memaksa si gendut terjatuh lemas ke tanah. “Wow! Puasa ku batal gak ya habis mukulin orang” ujar pria itu santai mengambil
kembali topinya, menyingkirkan debu yang ada di sana. Dia berbalik, mengulurkan tangan pada Nia, “Kamu gak papa?” “A-Ah iya” suara sorakan tepuk tangan memeriahkan pasar saat tangan keduanya menaut. Dup!—jantung Nia berdetup kencang, demi apapun, pria yang ada di hadapan nya seperti pangeran berkuda. Kyaaa! Dia ingin berteriak tapi tetap mencoba stay cool, ingat bukan muhrim nya. “Apa biasanya memang terjadi seperti ini?” Tanya nya kepada Nia, memperhatikan para preman yang sudah di ikat oleh para warga. Nia menggeleng, “Enggak kok, malahan biasanya aman-aman aja. Tapi gak tau kenapa tiba-tiba ada preman yang datang, wajah mereka juga kelihatan marah banget” “Hmm…” Di berdeham, mengingat satu siluet pada benaknya yang berkemungkinan besar adalah dalang di balik ini semua. “Sepertinya aku tau” gumam pria itu. Nia menoleh, “Maaf, tadi kamu bilang apa?” “Gak papa, jangan di hiraukan” Balas nya cepat dengan senyuman yang lagi-lagi membuat Nia salting. “Bisa rapikan sendiri kan? Aku pergi dulua ya, daa!” Pria itu segera berlari kencang melewati kerumunan. Tangan Nia terulur namun tak sempat, ia menatap kearah dagangan nya. Di benak nya hanya ada dua pilihan, kejar atau biarkan. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir, namun…ada hal lain yang menggangu pikiran nya. Paras itu, alunan melodi itu, bernyanyi di telinga Nia seperti hamparan nostalgia yang tertutup kabut
tebal. Nia merasa pernah melihatnya, pernah mendengar nya. Namun…dimana? Di hadapan pilihan yang krusial, akhirnya gadis itu menentukan pilihan nya, pergi untuk mengejar sang pengembara.
——
Cahaya perlahan mulai tertelan gedung-gedung, menyisakan bayang yang menandakan sebentar lagi memasuki waktu magrib. Pria itu sampai di pemukiman kecil
penuh dengan sampah berserakan, kondisi rumah yang tak terjaga dan banyak nya orang orang miskin di sana. “Anjing!” teriak salah satu warga di sana, membanting HP nya karena kalah judi. Langkah si pengembara terhenti, menggumam Astagfirullah pada hatinya. Daripada di sebut desa, tempat ini lebih layak di sebut sebagai parit dosa di tengah orang orang yang berebut pahala. Pria itu melanjutkan perjalan nya. Flip!—kepala kecil nongol dari balik tong. Itu Nia, diam-diam membuntuti nya. “Bau banget…” ucap gadis itu sambil menutup hidung udah kayak kucing rumahan yang ditaruh di gorong-gorong. Nia kembali menatap ke depan— hilang! Kemana perginya pria itu?? Nia panik gak karuan dan akhirnya ngibrit untuk mengejar si pria. Langkah terhenti di sebuah gang—tak damai justru semakin ricuh. Kata-kata kotor melayang di udara, emosi dijadikan pelampiasan dan amarah dijadikan rumah. Begitu sang pengembara masuk lebih dalam, di situ dia melihat nya, “Sudah kuduga, ternyata kau biang kerok nya” ucap si pria kepada monster berbentuk setengah singa, tengah menyerap energi amarah dari warga di sekitar. Nia menutup mulut, bersandar pada dinding yang ada di sana. Ini kali pertamanya melihat monster yang begitu mengerikan. “Ayo kita lanjutkan pertarungan yang sempat tertunda” tangan nya mengangkat sebuah kotak putih kecil seperti buku, tak lupa dua kartu utama yang menjadi pesona utama sang pengembara. “Cahaya yang datang dari sebuah kisah, Al-Hikmah” “Keberanian dalam jiwa, Al-Mujahid” “Lejend Up!” “Transform” Kilatan suci terpancar dari dada—mengeluarkan likukan kawat yang menggeliat seperti ular, menutupi tubuh sang pengembara seutuhnya. Begitu gejolak perubahan sirna, armor putih berkilau di bawah langit jingga, menampilkan sesosok kesatria berpedang dengan keberanian tiada tara. “Satria Nurvalen : Courage tales” “Waktunya menulis cerita diatas kanvas dunia” Kalimat khas yang sama terulang, aksi singkat yang langsung membuat monster itu mengamuk. Di lain siis, Nia membelak mata dan menelan salivia nya, perasaan takut dan kagum yang bercampur aduk. Ternyata selama ini pria itu dapat berubah menjadi kesatria?? Roarr!—ia berteriak menerjang ke Nurvalen, lebih cepat dan kuat. Cakar terayun menghancurkan dinding-dinding rumah, Nurvalen menunduk dan memutar badan, menebaskan ayunan pedang singkat yang hanya menggores permukaan tangan nya. “Sialan, mahluk ini menjadi lebih kuat!” Wuff!—hawa panas menyengat permukaan. Aliran merah tipis terukir di udara
koong layaknya peri api yang termakan kearah mulut sang monster, itu bukan energi yang berasal dari bara melainkan amarah pada pendosa. Kedua tangan si Singa terbuka. Duarr!—sengatan jingga menyelimuti tubuh si raja hutan, memberikan kekuatan tambahan. Cukup satu pukulan—BRUKKK!
Angin meledak menghempaskan Nurvalen kebelakang, merobohkan dinding penyanggah pemukiman. Pria itu berusaha bangkit dari puing-puing bangunan, tak sempat ia menarik napas, monster itu sudah kembali menerjang. Roll depan ia lakukan, menghindari tubrukan api yang tak hanya meledakkan namun juga membakar. “Jika sudah seperti ini aku tidak punya pilihan lain” Tangan nya menyentuh buku yang ada di dada nya, memasukkan kartu berwarna ungu pekat bergambar bintang-bintang dilangit malam. Cling!—cahaya berbinar seperti ekor bintang utara, “Ultimate Card : Activeted!” tubuh sang pengembara terlapisi gejolak permata putih kebiruan dengan aksen armor yang terlihat semakin tebal dan kuat, melingkar syal putih layaknya pejuang umat muslim pada jaman dahulu. Pedang berubah menjadi kuas kaligrafi dengan taburan bintang kecil yang mengelilingi nya bagaikan raja di langit lepas. “Ultimate Nurvalen : Piece 1” Tek!—jari menjentik alun, di samping pria itu, muncul layar yang menghitung mundur selama 60 detik—batas waktu dirinya dalam bentuk ultimate. “Akan aku tulis akhir ceritamu!” Tangan nya mengayun ringan. Satu goresan membentang cat kebiruan, dua goresan melukis huruf-huruf arab, sementara goresan ketiga membuat semuanya nyata. Kata ,tercipta dan gelombang pasang segera menerjang kearah monster tersebut ”)Air( ماء “menghayutkan dirinya dalam genangan kebenaran.
“The great man of all time pernah berkata, Sesungguh nya Allah membenci orang yang lisan nya kotor dan kasar” Jari telunjuk mengarah lurus pada sang monster. Kalimat pemurnian sudah terlontar, kini, tak ada lagi jalan untuk keluar. “Hukuman mu adalah…UNTUK SIRNA DARI DUNIA INI!” Tuas berbentuk jeruji pada senjata ia tekan tiga kali, setiap tekanan memancarkan pusaran energi putih yang langsung datang dari cahaya surgawi. Kata “ حصان (Kuda)” mewujudkan seekor hewan milik para kesatria yang memekarkan butiran-butiran kelopak kuning keemasan. Satu ayunan— Sring! Perintah mutlak Nurvalen kepada sang kuda, ia menerjang menembus angin, meledakkan monster singa dan mengurung nya kembal ke alam bawah. Amarah perlahan mereda, mereka yang semula tak bisa mengendalikan pikiran kini telepas dari pengaruh buruk salah satu monster pendosa. Kristal merah tertinggal di tanah, Nurvalen melakukan scan menggunakan kekuatan nya. Sreng…kristal itu berpecah dan termurnikan menjadi putih suci, membentuk sebuah kartu baru bertuliskan “Adap” yang memiliki visual tangan terbuka menadah pahala, berwarna hijau dengan taburan emas. “Jadi Adap yang menyegel kekuatan Amarah ya. Woah, mohon bantuan nya!” ia menunduk sembari menggengam kartu itu, menjadi awal baru kekuatan yang akan menantinya. Sang pengembara melepaskan buku pada dada nya, berjalan pergi dari sana tak lupa dengan memainkan melodi Harmonika di saat fajar sudah sepenuh nya tenggelam. Nia berdiam diri di sana, lagi-lagi alunan nada yang tak asing baginya. Di saat pria itu berubah, entah mengapa Liontin miliknya juga bereaksi seolah menemukan raja yang selama ini ia cari. Nia benar-benar tak mengerti, pria yang bahkan ia tak tau namanya kini menjebak dirinya dalam ingatan yang dilema. Sebenarnya…apa hubungan Nia dengan Nurvalen
——
Di balik tirai kemenangan yang kalian saksikan, energi kegelapan Bersatu menciptakan kartu bertuliskan “amarah”—bergambar monster singa yang tadi Nurvalen kalahkan. Kartu itu mendarat mulus di tangan pria berambut hitam pekat dengan garis retakan yang mengakar di mata kirinya—tersenyum tipis penuh rencana. “Kau adalah cahaya dan aku adalah kegelapan. Kita lihat, siapa yang bertahan hingga akhir…” Perjalanan Nurvalen masih Panjang, namun buku cerita harus kita tutup dan sudah waktunya mengakhiri kisah dari sang pengembara. Rangkaian demi rangkaian masih terpisah, menyebarkan banyak bagian yang harus kalian satukan untuk mendapatkan keberanan. Sampai jumpa lagi, di kasih yang akan datang.
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
