Lentera Cerita: Belajar Kuat di Bulan Puasa
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VII A yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Belajar Kuat di Bulan Puasa”
✍️ Karya: Tsanaul Elva Nanda & Aqila Khanza Destiani — Kelas VII A
Selamat membaca
Namaku Alya, aku kelas 1 SMP. Ini Ramadhan pertamaku sejak jadi anak SMP. Rasanya berbeda dari waktu masih SD. Aku merasa sudah lebih besar, jadi aku ingin puasanya lebih serius dan tidak malas-malasan.
Hari pertama puasa, aku bangun sahur dengan keadaan masih mengantuk, mataku masih susah dibuka. Ibu sudah menyiapkan nasi dan telur dadar dimeja, ayah juga sudah duduk di meja makan.
“Alya, cepat makan, nanti imsak,” kata Ayah.
Aku makan pelan-pelan sambil menahan kantuk, dalam hati aku bilang, tahun ini aku harus puasa penuh dan tidak bolong.
Di sekolah suasana terasa berbeda. Kantin tutup, saat jam istirahat, tidak ada yang jajan. Kami cuma duduk didalam kelas, ada yang tidur di meja, ada yang bercerita. Biasanya kami ribut, tapi ketika puasa suasana jadi lebih tenang.
Siang hari tetap jadi waktu paling berat. Perutku selalu berbunyi, tenggorokanku kering. Aku ingin duduk dikelas saja, rasanya tidak ingin malakukan kegiatan apapun. Tapi aku mencoba untuk melakukan kegiatan yang bisa aku lakukan seperti, membaca buku dan bertukar cerita dengan teman sebangku.
Suatu hari di sekolah, saat jam istirahat, ada salah satu teman yang sengaja membuka bekal di depan kami yang sedang puasa, katanya dia tidak kuat puasa pada hari itu. Beberapa teman ikut tergoda dan bilang mereka juga ingin ikut makan.
Aku sempat tergoda karena pada saat itu perutku terasa sangat lapar, tetapi aku memilih untuk keluar kelas agar tidak melihat mereka makan.
Waktu kembali ke kelas, aku merasa lebih kuat. Temanku yang tadi makan juga terlihat sedikit malu.
Sepulang sekolah, aku biasanya langsung rebahan sambil bermain HP. Tapi di bulan Ramadhan ini aku mencoba melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat, kadang aku membantu Ibu memasak dan membersihkan rumah, kadang aku juga cuma duduk di ruang tamu sambil melihat jam dan menunggu waktu magrib.
Menjelang berbuka itu rasanya lama sekali. Aku sering bolak-balik untuk melihat jam, dan sering kali aku melihat makanan didapur, tapi aku belajar menahan diri dan tidak mengeluh.
Malamnya aku ikut tarawih di masjid Bersama Ayah. Masjid ramai sekali, ada anak kecil yang bercanda, dan ada yang serius salat. Aku berdiri lama sampai kakiku pegal, kadang aku hampir menguap.
Tapi setiap selesai salat, rasanya lega. Seperti ada rasa tenang yang membuat hati jauh lebih tenang. Aku jadi mengerti kenapa banyak orang suka suasana Ramadhan.
Hari-hari berikutnya aku mencoba jadi lebih sabar. Waktu adikku berisik saat aku sedang belajar, aku tidak langsung marah, dan waktu tugas sekolah banyak, aku tidak mengeluh berlebihan. Walaupun kadang masih kesal dan lelah, tetapi aku ingat jika sedang berpuasa.
Tidak terasa Ramadhan hampir selesai, rasanya cepat sekali. Padahal awalnya aku pikir puasa itu lama dan berat.
Malam takbiran pun tiba, suara takbir terdengar dari masjid. Aku berdiri di luar rumah melihat langit malam.
Aku merasa senang karena puasaku berjalan dengan lancar. Aku juga merasa ada yang berubah sedikit dari dalam diriku. Aku belajar menjadi orang yang lebih sabar dan lebih bisa menahan diri.
Ramadhan tahun ini sederhana saja, tidak ada hal yang special, tapi aku merasa Ramadhan kali ini paling berkesan.
Ternyata puasa bukan cuma soal tidak makan dan minum, tetapi juga belajar kuat dan belajar jadi lebih baik, walaupun semua itu terasa berat.
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
