Lentera Cerita: Beratnya Puasa di Awal Ramadhan

Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VIII H yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.

“Beratnya Puasa di Awal Ramadhan”

✍️ Karya: Safira Fajarotus Sofa — Kelas VIII H

📖Selamat membaca

Di pagi buta harinya, alarm berbunyi dari ponsel Putra yang menunjukkan puku 03.15 pagi. Suaranya seperti parutan besi yang bertemu beton, kasar dan memaksa. Putra mengerang, matanya terasa seperti direkat lem sisa pekerjaan kemarin. Ini adalah hari pertama Ramadhan, di kamar kos berukuran 2×3 meter itu, udara terasa pengap meskipu kipas angin kecin di sudut ruangan berputar dengan bunyi tek-tek-tek yang monoton.

“Ayo, Put. Sahur,” bisiknya pada dirinya sendiri. Suaranya serak bahkan sebelum puasa dimulai. Ia bangkit, menyalakan lampu bohlam kuning yang redup. Diatas meja kayu kecil, hanya ada sebungkus mie instan dan sisa nasi dingin dari warteg semalam. Inilah awal puasa dari perjuangan itu. Bagi Putra, awal Ramadhan bukan sekedar soal menahan lapar, tapi soal penyesuaian mesin di tubuhnya yang biasa dipacu dengan kopi hitam dan rokok sejak fajar memyingsing. Saat menyuap nasi dingin, pikirannya melayang pada pekerjaannya sebagai buruh pengecoran di proyek apartemen lantai 15. Matahari Februari sedang galak-galaknya. Ia membayangkan semen yang berat, debu yang mencekik, dan kawan-kawannya yang mungkin akan sama lesunya pagi ini.

Pukul 12.00 siang, matahari begitu sangat panas. Putra berdiri di atas steger dengan linggis di tangan. Di hari biasa, jam segini ia sudah menghabiskan dua gelas kopi dan tiga batang rokok untuk menambah adrenalinnya. Namun sekarang, perutnya mulai memberikan sinyal protes. Asam lambungnya seperti sedang menari-nari, mengingatkan bahwa ada ruang kosong yang biasanya terisi.

“Put, masih kuat?” teriak Pakde Jono dari bawah. Pakde adalah mandor senior yang rambutnya sudah memutih semua, tapi fisiknya masih seperti banteng.

“Masih, Pak de! Baru jam 12.00!” jawab Putra sambil memaksakan senyum. Padahal, keringat dingin mulai membasahi dahi di balik helm proyeknya. Inilah fase terberat di awa Ramadhan: ritme tubuh. Jantungnya berdegup lebih kencang karena kekurangan asuapan kafein yang biasanya menjadi bahan bakar utama. Kepalanya berdenyut ringan sebuah migrain khas di hari pertama puasa yang mulai mengetuk-ngetuk dinding kesadarannya. Matahari semakin terik. Pukul 13.30, suhu di lokasi proyek mencapai 34°C. Aspal dan beton di sekeliling mereka seolah memantulkan kembali panas ke wajahnya. Putra melihat botol air mineral milik salah satu tukang non-muslim di pojok area kerja. Embun dingin yang menetes di pinggiran botol itu terlihat lebih indah daripada pertama manapun di dunia. Ia menelan ludah, tapi yang ia telah hanyalah udara kering.

Waktu Asar mata Putra mulai berkunang-kunang. Setiap kali ia mengangkat beban pandangannya sedikit gelap. Ia harus berhenti sejenak, bersandar pada pilar beton yang masih kasar.

“Ya Allah, baru hari pertama,” batinnya. Ia sempat berpikir untuk menyerah. Namun, Ia teringat wajah ibunya yang di kampung. Ibunya selalu berkata, “Puasa itu bukan soal perut, Put, tapi soal siapa yang jadi tuan atas dirimu sendiri. Nafsumu atau Imanmu.” Ia memejamkan mata sejenak, dan menghirup napas dalam-dalam yang berbau semen dan debu. Putra memutuskan untuk sholat asar di mushola terdekat. Putra mengambil wudhu, membasuh wajah sampai kakinya, setelah itu Putra memulai sholatnya dengan khusyuk. Sore hari pukul 16.00. Langit mulai sedikit meredup, tapi kelembapan udara justru membuat gerah semakin menjadi-jadi.. Putra merasa tenaganya tinggal 5%. Setiap langkah kakinya terasa seperti memakai pemberat timah. Namun, di saat inilah ia merasakan sesuatu yang aneh. Rasa lapar itu menghilang, berganti dengan rasa pasrah yang tenang. Ia berjalan menyusuri pasar. Bau gorengan, aroma es cendol, dan manisnya kolak menusuk-nusuk indra penciumannya. Jika pagi tadi Ia merasa tersiksa, sore ini Ia merasa sedang dipuji dalam sebuah kompetisi ketahanan mental. Ia membeli satu plastik es teh manis dan tiga buah tahu isi. Ia duduk di pinggir jalan bersama puluhan orang lain nya menunggu bedug Maghrib.

“AllahuAkbar… AllahuAkbar…” suara adzan berkumdang dari Masjid di seberang jalan, Putra tidak langsung menyerbu es tehnya. Ia mengambil napas panjanh, tersenyum kecil, lalu meminum perlahan. Dinginnya air melewati kerongkongannya yang kering kerontang terasa seperti kehiduoan yang di pompakan kembali ke dalam sel-sel tubuhnya. “Alhamdulillah,” ucapnya lirih, Beratnya awal puasa hari itu terbayar tuntas. Bukan karena makanannya, tapi karena Ia tahu bahwa Ia baru saja memenangkan pertempuran besar melawan dirinya sendiri.
Esok harinya mungkin akan tetap berat, tapi ia sudah tahu bahwa Ia bisa melewatinya.

Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan

✨ Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *