Lentera Cerita: Vara Janji Tidak Batal Puasa Lagi
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VIII B yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Kehangatan Senja”
✍️ Karya: Vania Rahma Octavia — Kelas VIII B
Selamat membaca
Anak kecil berumur 5 tahun itu sangat menggemaskan dan lucu, Dia adalah anak kecil yang belum tahu apa-apa mengenai bulan Ramadhan, apa itu puasa?, tarawih?, dan mengapa orang-orang mengeluarkan uang mereka untuk memberikannya ke orang orang di pinggir jalan?
Ini dia namanya Vara Kirana, teman teman memanggilnya Vara. Ibunya selalu mengajari Vara mengenai apa itu Puasa hingga ia tau. Ibunya berharap Vara menjadi anak yang rajin. Pertama kali melihat dia selalu heran kenapa Ayah dan Ibunya tidak makan dan minum apalagi dari subuh sampai maghrib. Dan itu selalu terjadi saat bulan Ramadhan tiba, apa mereka sedang hemat karena gak punya uang??.
Dan besok adalah bulan dimana orang orang sangat menantikannya. Yaps, itu dia bulan Ramadhan, Ibunya Vara menyuruh Vara untuk puasa. Ketika Ayah, Ibu, dan Vara sedang menonton TV di ruang keluarga Ibunya berkata.
“Nak, besok kan udah puasa, kamu juga puasa yaa” suruh Ibunya
“Puasa?, apa itu?” Tanyanya, anak itu belum paham tentang puasa dan Ibunya mengajari dengan perlahan.
“Puasa itu ibadah umat muslim yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan yaitu dengan menahan rasa lapar dan haus.” Ibunya menjelaskan “Dan kita harus menahannya dari subuh hingga Magrib” lengkap Ayahnya lagi “Berarti kita ga boleh makan ya Bu, benar saja Ayah dan Ibu tidak makan jika bulan Ramadhan tiba?” Vara bertanya lagi
“Yaa itu benar, selain harus menahan lapar dan haus kita juga tidak boleh marah, iri, sombong maupun pamer, dan juga tidak boleh membicarakan keburukan orang lain” jawab ibunya menjelaskan “Dibulan Ramadhan ini seharusnya orang-orang berlomba-lomba mencari kebaikan agar mendapat pahala” tambah Ayahnya lagi
“Bagaimana caranya agar mendapat pahala saat bulan Ramadhan Ayah??” Tanya Vara
“Banyak caranya Nak, bisa dengan membaca Al-Quran, sholawat, bersedekah, berdzikir, dan banyak lagi” jawab Ayah.
Vara hanya melihat ke arah Ayah dan Ibunya secara bergantian. “Aku ga paham Buuu”. Katanya sambil menggaruk garuk kepalanya. Ayah dan ibunya saling berpandangan dan tersenyum. Vara tak tau apa yang ada di pikiran orang tuannya kenapa mereka tersenyum, lalu ia pergi meninggalkan orang tuanya yang masih tertawa itu.
“Udahlah Bu…. masih kecil juga belum paham belum bisa lagi, yang ada malah batal nanti” kata Ayahnya Vara.
Malam harinya saat Vara sedang menonton TV, Ayahnya mengajaknya pergi ke mushola.
“Nakk, Vara, yuk tarawih ke mushola” ajak Ayah Vara “Tarawih?, sholat apa itu Yah?” Lagi lagi Vara bertanya tanya.
“Tarawih itu sholat sunah 11 rakaat yang hanya di lakukan pada saat bulan Ramadhan setelah sholat isya” Ayahnya menjelaskan
“Apaaa!!! 11 rakaat banyak banget Yahh, aku ga mauu aku capek” teriak Vara kaget.
“Yuk berangkat keburu mulai loh sholatnya” ajak Ibunya setelah siap siap dan keluar dari kamar.
“Vara ga mau ikut tuh Bu, katanya capek banyak Rakaatnya” canda Ayah Vara
“Beneran Vara ga mau ikut padahal disana banyak temen-temen kamu, pasti pada ikut kalo kamu ga mau…. yaudah Ayah sama Ibu berangkat, kamu di rumah sendiri yaa, babayy” Ibunya ikut bercanda
“Ga mau di rumah sendiri takutt, mau ikut ajaa mau main sama Pita jugaa!!” Teriak Vara sambil berlari keluar mengejar orang tuanya. Lagi lagi Ayah dan Ibunya tertawa melihat tingkah menggemaskan anaknya ini. Dan ibunya menyiapkan mukena untuk Vara lalu mereka bertiga pergi ke Mushola untuk Tarawih.
Sepulang tarawih mereka mengambil Al Qur’an dan membacanya bersama sama, setelah selesai membaca ibunya membersihkan tempat tidur dan bersiap untuk tidur. “Nakkk, besok bangun pagi untuk sahur ya pokoknya kamu harus puasa” suruh ibunya
“Sahur?, aku harus bangun jam berapa Bu?” Tanya Vara
“Mungkin jam 3, nanti kita makan sebelum kita puasa sampai Maghrib” jawab ibunya
“Ibuuu yang benar saja, aku harus bangun jam 3 aku ga mau sahur ngantukk, ga mau
puasaa apa aku harus menahan lapar hingga Maghrib?” teriak Vara tak mau puasa.
“Loh kamu itu udah besar lhoo masa ga mau puasa, makanya latihan dulu, besok Ibu
bangunin kamu buat sahur okay?” Kata ibu, ia ingin mengajari Vara untuk berpuasa, agar terbiasa sampai besar nanti, Yaaa walaupun setiap kali mendengar adzan ia berbuka, setidaknya Vara sudah mengenal puasa.
“Dengerin kata Ibu, nanti kalo udah terbiasa pasti kamu semangat untuk bangun sahur. Dan Vara tau gak,…. pas sahur besok pasti ramai orang orang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, ramai sekai” kata ayahnya untuk menarik perhatian Vara agar ia mau untuk bangun sahur
“Benar itu Yah, Vara mau liatt aku mau bangun sahur dehh” teriak gembira Vara
“Gitu dong anak Ayah harus semangat untuk puasa, yaudah yuk tidur biar besok ga kesiangan sahurnya” kata Ayah
Setelah berbicara panjang kali lebar dan akhirnya mereka bersiap untuk tidur. Sudah tepat pukul tiga pagi, Ibu Vara bangun untuk memasak makanan sahur, sudah di duga Vara sulit sekali untuk di bangunkan sahur. Padahal Ayahnya sudah berusaha membangunkannya.
“Hadehh, Nakk Varaaa, ayok bangun yukk katanya mau sahur mau liat orang orang bangunin sahur” ucap Ayahnya dengan lembut mengelus pipi Vara.
“Huammm, iya Ayah” hanya menguap saja yang ia berikan dan malah tertidur lagi
“Anak ini, gimana cara banguninnya?” pikir ayahnya yang sudah capek membangunkan Vara, tapi tetap saja anak kecil itu masih ingin tidur. Lalu terdengar suara seseorang membangunkan sahur di keliling kampung.
~Sahurrr sahur, sahur sahur, sahur sahur ayo kita sahurrr, bapak bapak ibu ibu yuk
sahurrr~
“Nahhh pas banget ini”
“Nak, tuh dengerin ada orang orang keliling kampung buat bangunin sahur, yuk kamu juga bangun yuk.” Ayah masih berusaha membangunkan Anaknya itu. Dengan mata yang di kucek kucek itu akhirnya Vara berhasil bangun.
“Huammm, iya ini Vara bangun”.
Dengan mata yang masih lesu dia bangun dari tempat tidur.
“Udah ah, yuk sahur, makan” ajak Ayahnya, Jangan sampai itu anak tertidur lagi, sangat sulit membangunkannya. Ayah dan Vara menuju ke ruang makan untuk sahur, di sana sudah banyak menu sahur yang tergeletak di atas meja, Ibunya sudah memasak berbagai makanan dan juga susu.
Mereka bertiga pun makan. Dengan mata yang masih layu dan mulut yang terus menguap hingga Vara tak kuat untuk makan
“Hadehh, udah ngantuknya, tidurnya nanti lagi, sekarang makan keburu imsyak” kata Ibu
“Imsyak itu apa?” Tanya Vara
“Imsyak itu batas kita makan dan dimulainya puasa.” Jelas Ibunya
“Berarti kalo udah imsyak ga boleh makan lagi?” Anak itu sudah sedikit bersemangat untuk makan karena membahas imsyak.
“Iyaa, makanya cepet kalo makan!!” Suruh Ayahnya.
Mereka melanjutkan makanannya, setelah imsyak mereka berhenti makan dan di mulainya hari pertama Vara berpuasa. Setelah adzan berkumandang ayahnya menjadi imam untuk sholat berjamaah di rumah, lalu tadarus Al-Qur’an lagi bersama. Sebenernya Vara anak yang penurut tapi sedikit keras kepala untuk di nasehati.
Setelah tadarus Vara ingin kembali ke tempat tidurnya itu lagi “Buu, mau tidur lagi masih ngantuk”
“Tapi jangan kelamaan nanti 30 menit aja cukup nanti kalo denger adzan kamu buka” kata Ibunya.
Ibunya yang hanya geleng geleng kepala melihat anaknya itu, hadehhh……. tidurr saja yang hanya di pikirannya apalagi sekolah libur apa gak bangun jam 10 tu anak. Ibunya sengaja masih memperbolehkan Vara untuk puasa sambung karena untuk belajar.
Saat pukul 11 siang Vara sudah bersiap-siap untuk berbuka, saat adzan terdengar ia langsung lega dan cepat cepat makan.
“Cepet ya kalo makan nanti kalo adzan udah berhenti kamu juga berhenti makan nanti sambung lagi hingga Maghrib” suruh Ibunya.
Vara yang sudah mendengar adzan itu sangat bersemangat untuk makan, dengan mengunyah makanannya hanya menjawab “Siap ibuuu”. Perut Vara sudah benar-benar kenyang sekarang, dan dia siap untuk puasa lagi.
Sepanjang siang dia hanya bermain dirumah. Hingga sore tiba, Ibunya memasak untuk menu buka puasa, Ayah pun sampai rumah setelah bekerja dan ia membersihkan dirinya lalu mengajak Vara untuk ngabuburit.
“Varaa, ngabuburit yukk, jalan jalan” ajak Ayah
“Jalan jalan?…. ayok yahh” Vara begitu senang saat Ayahnya mengajak jalan-jalan.
Saat di perjalanan Ayah dan Vara melihat orang di pinggir jalan sangat kasihan pakainya
begitu lusuh sudah sedikit sobek, tak memakai sandal bahkan ia tak punya uang untuk
membeli makanan, lalu Ayahnya berhenti dan memberi sedikit uang agar orang itu bisa
makan lalu Ayah kembali pergi lagi.
“Yah… Kenapa Ayah memberinya uang kan Ayah ga kenal orang itu?”
Ayahnya menjawab. “Nak.. jika ingin memberi sesuatu jangan memandang siapa
orang itu apakah kita kenal dengannya ataupun tidak, kita harus bersedekah dengan iklas dan
tidak mengharap imbalan apapun”.
Setelah jalan jalan yang cukup lama Vara dan Ayahnya kembali pulang kerumah dan mempersiapkan makanan untuk berbuka. Adzan Maghrib sudah terdengar Ayah, Vara, dan Ibunya, langsung membaca doa buka puasa lalu makan makanan yang telah siap di depan mereka itu, ternyata puasa itu menyenangkan ya Bu.. kata Vara. Malam harinya Vara berangkat ke mushola lagi untuk Tarawih bersama orang tuanya, kali ini dia sangat bersemangat. Sesampainya di rumah Hingga jam menunjukan pukul 9 malam Ibunya menyuruh Vara untuk cepat tidur. “Nakk sudah malam tidur ya, besok kamu sahur lagi”
“Lahh puasa lagi Bu? Engga satu hari aja?” Vara kaget mendengar hal itu
“Puasa siapa satu hari doang” Ibunya terkekeh mendengar ucapan anaknya itu dan
ayahnya yang ada di sebelah Ibu ikut tertawa juga. Keesokannya dan besoknya lagi Vara masih mau berpuasa, tapi pada suatu hari ada hal yang membuat Ibunya marah besar kepada Vara. Siang itu ketika Vara sedang di rumah. Pita, salah satu teman Vara memanggilnya untuk mengajak main, Ibunya memperbolehkan saja kalo Vara ingin bermain tapi Ibunya berpesan jangan sampai kamu membatalkan puasamu. Vara mengangguk seakan benar benar
menepati pesan itu.
Saat sedang bermain pita mengajak Vara untuk membeli jajan, pertama Vara ragu untuk menerima ajakan itu, namun Ia berpikir aku sudah bosan berpuasa lagi satu kali saja Ibu juga ga bakal tau kan Ibu ga liat, mereka pun pergi ke toko untuk membeli es krim, ketika keluar dari toko. Vara berpapasan dengan ibunya yang hendak belanja. Melihat anaknya yang sedang menjilat es krim itu amarahnya langsung memuncak, tak pikir ada orang di sekitarnya Ibunya langsung menarik telinga Vara dan mengajaknya pulang meninggalkan Pita yang masih berdiri disana, di perjalanan Ibunya tak berhenti berbicara memarahi Vara hingga mereka sampai di rumah, ibunya mengomel sampai ingin mencubit Vara lagi dan berkata “Apa yang sudah Ibu bilang, kamu boleh main tapi jangan sampai kamu membatalkan puasa kamu, dari awal Ibu udah mengajari kamu untuk berpuasa lho, Ibu harap kamu itu bisa jadi anak yang rajin untuk puasa, Ibu benar benar kecewa sama kamu”
Vara mulai meneteskan air matanya setalah mendengar perkataan marah dari Ibunya itu. “Iya buu Vara minta maaf Vara janji ga akan batal puasa lagi” ucap Vara sambil sesenggukan.
Ibunya menarik nafas dan mengucap Istighfar ia ingat puasa tidak boleh marah. “Okey kali ini Ibu maafin kamu, tapi ingat jangan sampai kamu membatalkan puasamu lagi, nah Ibu mau tanya kenapa kamu melakukan hal itu?” Tanya ibunya, marahnya sudah sedikit mereda
“Tadi aku di ajak Pita beli jajan di toko tapi kan aku ga bawa uang jadi aku di beliin deh sama Pita” jawabnya jujur
“Terus Kenapa kamu mau di ajak jajan?” Tanya Ibunya lagi
“Tadinya Vara ga mau tapi Vara capek, laper, Vara bosen mau puasa lagi” jawab Vara lagi
“Ibu minta besok kamu mau puasa lagi, jangan makan lagi ya, janji sama Ibu” pinta Ibu
Kelingking mereka bersatu tanda Vara berjanji.
“Iyaa Ibu aku janji deh, ga bakal batal puasa lagi.” Kata Vara
Setelah kejadian itu Vara sudah tidak pernah membatalkan puasanya lagi. Vara tumbuh besar menjadi anak yang rajin berpuasa, dan suka bersedekah. Orang tua mereka sangat senang dengan sikap anaknya itu. Ibunya berharap Vara benar benar menjadi anak yang berbakti dan rajin.
“Makasih ya Ayah Ibu sudah mengajari Vara membimbing Vara mengenai apa itu puasa i love you”.
End, thanks for reading
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
