Lentera Cerita: Saling Menjaga di Bulan Suci
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VIII F yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Saling Menjaga di Bulan Suci”
✍️ Karya: Afiqoh Keisha Novania — Kelas VIII F
Selamat membaca
“Ashaka, bangun!” Suara nyaring milik wanita paruh baya dari arah dapur terdengar. Ashaka terbangun lalu mengucek matanya, sembari menguap. Dia melirik ke arah jam alarm yang terletak di atas nakas miliknya, “Jam 04:00” Gumamnya dan bangkit dari atas ranjang miliknya menuju ke arah dapur. Setiap langkah yang dia lalui dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya, terasa sangat berat dan malas. Dengan sangat terpaksa Ashaka menuruni tangga, menuju meja makan dimana Ayah, Bunda dan Abangnya berada. “Ada apa Bun?” Tanya Ashaka dengan suara serak khas orang bangun tidur, Ayah hanya bisa menggelengkan kepala melihat putranya. “Ada apa, ada apa. Lihat udah jam 04:00! Cepat sahur” Omel Bunda kesal melihat tingkah putranya. “Vina dimana Bun?” Tanya seorang lelaki yang umurnya tidak beda jauh dari Ashaka, dia adalah abang dari Ashaka yaitu Arjuna. “Vina? Masih tidur, lagi pula dia ga bisa ikut puasa dulu, udah kalian cepat sahur. Keburu imsak” Jelas Bunda sembari mengambilkan nasi untuk Ashaka, Ayah, dan Arjuna Mereka mulai memakan sarapannya, walaupun Ashaka makan dengan sangat terpaksa. Toh ini juga supaya nanti dia tidak lemas dalam melakukan aktivitas sehari-harinya selama menjalankan ibadah puasanya.
☆☆☆
“Ashaka! Bangun! Kamu mau berangkat sekolah jam berapa?!” Teriak Bunda, kesal dan langsung menaiki satu-persatu anak tangga menuju kamar Ashaka. Bunda dibuat semakin kesal saat mendapati sang anak masih tertidur. Bunda menarik gorden, membiarkan cahaya matahari masuk melalui celah jendela yang terbuka. Ashaka mulai terbangun, duduk sembari mengusap matanya dan menguap. “Ada apa Bun? Shaka masih ngantuk Bunda” Keluh Ashaka sembari menguap. “Kamu ga mau sekolah? Ini udah jam 07:32 Shaka. Cepat mandi, Ayah dan Vina sudah nungguin kamu didepan” Jelas Bunda seraya keluar dari kamar milik Ashaka, dan menutup pintu dengan pelan. Dengan sangat terpaksa, Ashaka meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuknya selesai mandi, dengan tergesa-gesa Ashaka mulai memakai seragam SMA miliknya.
Dibawah dia menemukan adiknya yang sedang memakai sepatu dibantu oleh Ayah, Ashaka menghampiri mereka dengan napas terengah-engah. “Astagfirullah Bang Shaka!” Teriak Ashvina nyaring, membuat Ayah menoleh kebelakang. Bunda dan Arjuna berlari dari tempat awal mereka ke sumber suara, teriakan Ashvina terdengar. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada, Ashaka ataupun Ashvina. Saat mereka sampai, Arjuna hanya bisa tertawa. Sedangkan Bunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat penampilan putranya. “Vin, lo lihat. Jangan jadi seperti noh” Ledek Arjuna seraya menunjuk Ashaka, dan meletakkan lengannya di kepala Ashaka. Menjadikan Ashaka tempat untuknya bersandar. “Seragam lo benerin, dasinya juga. Rambut lo apalagi. Lo mau jadi berandalan Sha?” Ledek Arjuna, membuat Ashaka mengerang kesal. Dan merapikan seragamnya dengan benar, lalu menyugar rambutnya yang masih sedikit basah. “Bunda, Vina berangkat dulu ya. Ayo Bang Shaka! Nanti Vina telat” Omel Asvina pada Abangnya, menyalami Bunda dan Arjuna. Lalu menarik tangan Ashaka, yang baru saja selesai menyalami Bunda. “Jangan tarik-tarik Vina, iya ini Abang cepet” Ujar Ashaka seraya melepaskan genggaman tangan Ashvina, dan membukakan pintu mobil untuk adiknya masuk terlebih dahulu. Sebelum dirinya sendiri. “Ada yang ketinggalan?” Tanya Ayah seraya memasang sabuk pengaman, Ayah melihat kedua anaknya menggeleng. Dan mulai menjalankan mobil menuju SMA dimana Ashaka dan Ashvina berada, SMA Excelsoir High School.
Ashaka dan Ashvina turun dari mobil, menyalami Ayah dan mulai memasuki gerbang sekolahnya. Masih sepi? Mungkinkah mereka atang terlalu cepat? Atau… Ashaka dan Ashvina berlari menuju kelas mereka masing-masing benar saja, mereka terlambat 10 menit. Untungnya guru yang mengajar belum datang, Ashaka mulai menaruh tas dikursinya. Belum sempat Ashaka duduk, Pak Zergan seraya kepala sekolah berbicara lewat pengeras sekolah. Memberitahukan kepada semua murid untuk segera menuju ke lapangan upacara, karena akan diberitahukan suatu informasi. Ashaka mengerang kesal, dengan langkah terpaksa Ashaka melangkahkan kakinya menuju lapangan upacara. Disana sudah banyak murid yang sudah berkumpul, dia mengikuti barisan kelasnya. Pak Zergan naik ke podium dan meraih microphone menyelaraskannya dengan mulutnya. “Terimakasih atas perhatiannya, kami pihak sekolah ingin mengadakan sebuah event yaitu ‘Ramadhan Camp’.” Jelas Pak Zergan “Untuk tendanya, satu tenda berisi 4 anak. Bagi siswa dan siswi dipisahkan, Ramadhan Camp akan diadakan nanti sore. Jadi kami pihak sekolah menantikan kehadiran semua murid, baik dari kelas X, XI, XII, dari jurusan IPA, IPS, Bahasa, dan Hukum.” Tambah Pak Zergan. Kali ini mereka pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya, untuk mempersiapkan semua kebutuhan yang akan mereka bawa. Ayah sudah menunggu di depan gerbang, menunggu kedua anak kembarnya. “Ayah!” Sapa Ashvina dan berlari menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Ayah, Ashaka menghampiri Ashvina dan Ayah. Lalu mereka pun mulai memasuki mobil.
☆☆☆
Tidak lama dari itu, mereka sampai di pekarangan rumah. Dan disambut hangat oleh Bunda, Ashaka dan Ashvina mulai mempersiapkan peratalan yang akan mereka bawa. Tentu, dibantu oleh Bunda dan Ayah. Butuh waktu sangat lama untuk mereka, mempersiapkan semua peralatan yang akan mereka bawa. Akhirnya, semuanya telah selesai dikemas. Dan mereka mulai tidur, karena sore nanti mereka akan memulai Ramadhan Camp.
☆☆☆
Semua murid mulai mendirikan tenda kelompoknya masing-masing, termasuk kelompok Ashvina dan teman-temannya. “Vin? Lo bisa ga? Mau gue bantuin?” Tanya Seorang lelaki sembari berjalan menghampiri Ashvina. Ashvina yang merasa namanya di panggil menoleh ke belakang, mendapati Abangnya berjalan menghampirinya. “Gausah bang, ini udah mau selesai juga kok.” Jawab Ashvina seraya menyelesaikan pekerjaannya. “Kalau butuh bantuan, panggil aja. Abang ke tenda abang dulu” Ujar Ashaka seraya berjalan menjauh dari tenda milik kelompok Ashvina, dan berjalan menuju kearah tendanya. Ashaka memperhatikan Ashvina dari kejauhan, memastikan Adiknya baik-baik saja. “Bro, lo ngapain? Lagi lihatin siapa? Sampai sebegitunya banget ngelihatinnya” Tanya Narenza curiga melihat gerak-gerik Ashaka. Ashaka terkejut akan kedatangan Narenza yang tiba-tiba, “Kepo banget lo” Balas Ashaka cuek. “Ashvina cantik banget ya?” Ujar Narenza tiba-tiba membuat Ashaka relfek menoleh. “Santai bro, cuman puji dong. Gausah se posesif itu bro, tapi benarkan? Adik lo cantik banget. Buat gue ya bro?” Ujar Narenda menggoda Ashaka, saat melihat reaksi Ashaka yang berubah menjadi gelap. “Coba ngomong sekali lagi?” Tantang Ashaka sembari mengangkat kepalan tangannya, Narenza yang melihat itu hanya bisa tertawa cengengesan. Hari semakin gelap, dan sekarang semua murid sedang kumpul di tempat kumpul. Mereka mendapatkan tugas untuk mengumpulkan, ranting kayu guna membuat api unggun diacara…. “Baiklah anak-anak, kalian bisa mulai mencarinya. Jangan terlalu masuk ke hutan lebih dalam, jangan sampai melewati tali merah yang berada dihutan.” Jelas Pak Zergan dengan tegas, lalu semua murid mulai bubar mencari kayu dan ranting. Tak terlewatkan oleh Ashvina juga ketiga teman kelompoknya, Reina, Alya, dan Lana. Mereka juga ikut dalam mengumpulkan beberapa ranting. Walaupun sebenarnya tugas bagi siswi putri, membuat masakan untuk makan malam bersama. Tapi karena sudah terlalu banyak siswa dan guru yang melakukannya, mereka bertiga ikut membantu mengumpulkan beberapa kayu dan ranting. Reina, Alya, dan Lana. Sudah berhasil menemukan beberapa ranting, mereka berkumpul ditempat yang telah di janjikan oleh mereka saat sudah mengumpulkan beberapa ranting atau kayu. Untuk mengumpulkan kepada Pak Zergan. “Dimana Vina?” Tanya Lana seraya menoleh mencari-cari dimana keberadaan Ashvina, “Ada yang lihat Vina?” Tanya Reina kepada kedua teman-temannya, tapi mereka hanya menggelengkan kepala. Mereka bertiga mulai mencari-cari, namun mereka tetap tidak menemukan dimana keberadaan Ashvina. Sudah 1 jam lebih mereka mencari namun tetap tidak ketemu, mereka memutuskan untuk memberitahukan kepada Pak Zergan dan juga guru-guru yang lain. “Pak Zergan?” Sapa Alya dengan napas terengah-engah menghampiri Pak Zergan, diikuti oleh Reina dan Lana dibelakang Alya. “Ada apa ini? Kenapa kalian berlarian?” Tanya Pak Zergan
kepada ketiganya. “Ashvina Pak…” Ucap Reina seraya mengatur napasnya, “Ashvina? Ashvina kenapa? Ada apa dengan Ashvina?” Tanya Pak Zergan khawatir akan kejadian buruk yang menimpa siswinya. “Ashvina hilang Pak” Ujar Alya to the point, “Bagaimana Ashvina bisa hilang?” Bukan Pak Zergan yang bertanya, melainkan Ashaka yang muncul dari arah belakang. Sontak ketiganya langsung menoleh. “Shaka…” Ucap Lana lirih dan sedikit takut melihat wajah serius dengan mata elang tajam milik Ashaka, “Gue tanya sekali lagi, bagaimana Ashvina bisa hilang?” Tanya Ashaka serius dengan nada yang tidak main-main. “Tadi kami sepakat untuk berkumpul disini setelah mengumpulkan beberapa kayu dan ranting, tapi sampai 2 jam Ashvina belum juga kembali. Kami udah mencarinya selama 1 jam, tapi Ashvina tidak berhasil kami temukan” Jelas Reina menceritakan semuanya.
☆☆☆
Mereka semua sekarang berada di tempat dimana Ashvina, Reina, Alya, dan Lana berjanji untuk berkumpul saat sudah mendapatkan kayu dan ranting. Ashaka mulai berpikir, apakah Ashvina melewati batas merah?. Dia mendekati tali merah dan tentunya memeriksa apakah ada seseorang baik murid ataupun guru yang melihat, saat mendapati tidak ada yang memperhatikan Ashaka melewati batas merah. Ashaka masuk semakin dalam ke dalam hutan, kakinya tersandung dan jatuh dari jurang. Dia tersadar dan memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pusing, dia mengeluarkan ponselnya untuk menggunakan senter. “Vina! Ashvina! Lo dimana Vin!” Teriak Ashaka seraya berjalan dengan pencahayaan yang minim hanya dari senter ponselnya, Ashaka terus menerus berteriak memanggil-manggil nama Ashvina. Ashvina mendengar ada yang memanggilnya-manggil namanya, dia yakin ada yang mencarinya. “Disini!” Teriak Ashvina. Ashaka mendengar teriakkan Ashvina dan kembali berteriak, “Lo dimana Vin?!” “Aku disini di mulut goa!” Teriak Ashvina, Ashaka bergegas mencari goa yang dimaksud Ashvina. Dia berhasil sampai di mulut goa, dan melihat Ashvina yang sedang terduduk di tanah dengan kaki yang penuh luka lecet. Ashaka langsung menghampiri adiknya. “Ashvina kamu ga papa? Gimana bisa lecet semua kakimu? Kenapa kamu bisa sampai disini? Ada yang sakit lagi?” Ashaka langsung menghujani Ashvina dengan pertanyaan posesif abangnya itu. “Aku baik-baik aja Bang, kakiku hanya keselo” Jawab Ashvina, berusaha menenangkan abangnya dari kekhawatiran yang berlebih itu. “Abang tanya sekali lagi, kenapa kamu bisa disini?” Tanya Ashaka mulai tenang namun tetap waspada. Ashvina menghela napas sebelum menjawab dan menceritakan semuanya kepada Abangnya. “Tadi aku lagi ngumpulin kayu dan ranting, dan aku melihat ada kupu-kupu yang cantik, bang. Aku ikutin kupu-kupu itu dan tidak sadar melewati tali merah itu.” Ashvina mulai menceritakan semua kejadian yang membuatnya berada disini sekarang. “Lalu Aku tersandung dan jatuh ke jurang, kakiku juga keseleo” Tambah Ashvina, Ashaka terkejut mendengar Ashvina berkata dia jatuh ke jurang. Membuat Ashaka merasa kesal pada dirinya sendiri yang ga bisa lindungi dan jaga Adiknya. Perut Ashvina berbunyi, dia merasa lapar tapi tidak ingin membuat Abang tambah khawatir. Namun, sayang Ashaka mendengar perut Ashvina yang keroncongan. Ashaka mengambil coklat yang dia bawa, dan mengulurkannya pada Ashvina. “Eh… apa maksudnya?” Tanya Ashvina bingung dan terkejut. Ashaka menghela napas berat, dan mengambil tangan adiknya itu lalu memberikan coklat itu dengan paksa. “Makan, maaf bentuknya udah agak hancur. Karena gue jatuh tadi.” Jelas Ashaka, lebih seperti perintah daripada permintaan. “Makasih bang, abang juga mau?” Tawar Ashvina seraya menyodorkan coklat itu yang sudah dibuka bungkusnya pada Ashaka. “Kamu makan aja, gue ga lapar. Gue masih bisa ga makan sampai besok pagi” Jawab Ashaka sekenannya, tapi perutnya tidak bisa berbohong dan berbunyi. Sebenarnya Ashaka juga merasa lapar, tapi dia hanya membawa coklat. Dan dia lebih memilih tidak memakannya, supaya Ashvina bisa makan.
Tapi Ashvina tetaplah Ashvina, si gadis yang sangat keras kepala. Dia tetap mengulurkan coklat itu untuk Abangnya, Ashaka menghela napas kasar. Dan menerimanya, lalu mematahkan coklat itu, untuk dimakan dirinya sendiri dan Ashvina. Walaupun milik Ashvina lebih banyak dari miliknya. Selesai makan, Ashaka memberikan sebotol air mineral yang dia bawa untuk Ashvina. Ashvina menerimanya dengan senang hati. “Jangan dihabisin, sisain buat gue” Ucap Ashaka memberitahu kepada Adiknya, Ashvina mengangguk dan meminum air itu menyisahkan untuk abangnya. “Ini bang, udah Ashvina sisain untuk abang” Ucap Ashvina seraya menyodorkan botol air itu ke Ashaka.
Ashaka menerimanya dan menyimpannya. “Gue ga haus, ini buat nanti kalau kamu haus lagi” Jelas Ashaka saat melihat Ashvina yang mengerutkan keningnya. Hari semakin gelap, hanya ada satu sama lain. Kakak beradik yang saling melindungi satu sama lain, Ashaka menyadari tubuh adiknya yang gemetar. “Vin? Kamu gapapa?” Tanya Ashaka khawatir melihat adiknya menggigil kedinginan, Ashvina mengangguk. “Aku baik-baik aja Bang, hanya sedikit dingin” Jawab Ashvina bergetar karena kedinginan, Ashaka melepas jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Ashvina. Sontak itu membuat Ashvina
terkejut, tapi dia menerimanya. “Lalu abang gimana?” Tanya Ashvina khawatir, berniat melepas jaket milik abangnya dan mengembalikkannya. “Gue gapapa, Vina. Gue cowok jadi gue kuat, angin malam ga akan buat aku sakit Ashvina. Aku lebih baik sakit, daripada melihat adik kesayanganku yang sakit.” Jelas Ashaka sungguh-sungguh dan tulus dari hatinya.
Ashvina menghambur kedalam pelukan Ashaka, memeluk abangnya erat. Dia merasa aman saat berada disisi Abangnya, yang rela masuk hutan untuknya, rela menahan lapar supaya dia tidak kelaparan, rela menahan haus supaya tidak melihatnya kehausan dan dehidrasi. Tanpa sadar air matanya keluar, Ashvina menangis didalam pelukan sang Abang yang selalu ada untuknya. Tanpa sadar mereka tertidur dengan posisi berpelukan. Matahari mulai menduduki singgasananya, hari mulai cerah. Hari baru telah menanti Ashvina dan Ashaka, Ashvina terbangun dari tidurnya dan melihat hari sudah pagi. Dengan lembut dia membangunkan Abangnya, menggoyangkan bahu Ashaka. “Bang, bangun. Udah pagi” Ucap Ashvina seraya menepuk-nepuk pipi Ashaka, Ashaka masih memejamkan matanya. “Lima menit lagi Vin, gue masih ngantuk” Rengek Ashaka. “Abang!” Jawab Ashvina kesal, dan mencubit kedua pipi Ashaka. Membuat Ashaka dengan sangat terpaksa terbangun. “Ayo kita keluar, kamu bisa jalan?” Tanya Ashaka khawatir, menggingat ucapan Ashvina yang mengatakan kakinya keseleo.
Asvina menggelengkan kepalanya, dan menunduk. Ashaka langsung berdiri membelakangi Ashvina. Dan berjongkok di depan Ashvina. “Naik!” Ucap Ashaka tegas, lebih seperti perintah daripada permintaan. Ashvina naik ke punggung Ashaka, dan melingkarkan lengannya di leher Ashaka. “Gimana caranya kita bisa keluar bang?” Tanya Ashvina khawatir. “Tenang aja, gue udah buat tanda di setiap pohon yang gue lewati untuk ke gua ini. Kita tinggal ikutin setiap tanda aja” Jelas Ashaka sembari mulai melangkah sambil menggendong Ashvina di punggungnya. Di perjalanan Ashvina bertanya kepada Abangnya, “Bang? Kenapa Abang peduli banget sana Vina?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dibenak Ashvina. Ashaka hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan konyol Adiknya. “Pertanyaan kamu konyol banget Vin, ya karena gue Abang lo Vin” Ujar Ashaka menjelaskan kepada Ashvina, namun Ashvina masih bingung. “Ya, kenapa?” Tanya Ashvina kembali. “Karena aku Abang kamu Vin, aku sayang, cinta dan peduli sama kamu. Aku ga mau lihat adik kesayangan yang selalu aku jaga. Kesakitan, kelaparan, kehausan, dan kesepian. Jangan tanya lagi kenapa aku selalu pedui sama kamu, karena kamu berharga untuk aku Vin.” Jelas Ashaka terdengar sangat tulus. Hati Ashvina menghangat karena kata-kata abangnya, tidak perlu pembuktian. Karena itu nyata adanya.
“Setelah Bunda, Ayah tentunya” Tambah Ashaka membuat Ashvina kesal, dan langsung mencubit lengan Ashaka kesal. Setelah beberapa menit, setelah melewati perjalanan yang memakan waktu beberapa menit. Ashaka dan Ashvina sampai ditempat dimana mereka kemarin… tepatnya ditempat Ashaka kemarin jatuh dari jurang karena mulai dari situ dia membuat tanda di setiap pohon yang dilewatinya untuk mencari Ashvina. “Loh ini kan tempat kemarin aku jatuh” Ashvina terkejut mengetahui tempat dimana dia terjatuh sama dengan tempat dimana Ashaka terjatuh. “Yaudah kalau gitu, ayo kita cari jalan untuk sampai ke atas sana.” Ucap Ashaka seraya menunjuk ke atas jurang. Ashaka langsung berjalan memutar, untuk mencari jalan yang sekiranya bisa membuat dia ke atas sana. Karena tempat Ramadhan Camp berada diatas jurang. “Bang, kamu capek kan?” Tanya Ashvina tiba-tiba merasa bersalah, Ashaka menggelengkan kepalanya “Gue masih kuat Vin” Jawab Ashaka tegas dan menenangkan adiknya. “Maaf ya Bang, aku selalu ngerepotin abang” Ucap Ashvina merasa bersalah, Ashaka hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu ga ngerepotin aku Vin, jangan merasa ga enak. Udah tugas aku sebagai Abang jagain kamu Ashvina” Jelas Ashaka tulus dan pengertian Ashaka hanya tertawa, tanpa sadar di depannya ada pecahan kaca. Ashaka menginjak pecahan kaca tersebut, dan dikarenakan dia memakai sepatu yang sol-nya sudah tipis. “Awww…” Ashaka terjatuh, dengan Ashvina yang ikut terjatuh. Ashaka langsung melindungi kepala Ashvina dengan tangannya. “Bang? Abang baik-baik aja?” Tanya Ashvina khawatir, Ashaka hanya mengangguk. “Maaf Vin, lo ga papa?” Tanya Ashaka khawatir dan marah dengan dirinya sendiri, Ashaka melepas sepatunya. Disitu terlihat telapak kakinya yang berdarah dan robek. “Astagfirullah, Abang! Kaki… Abang!” Teriak Ashvina khawatir dan panik “Kok bisa bang?” Tanya Ashvina terkejut dan panik, Ashaka hanya menunjuk kearah pecahan kaca itu. “Tadi aku ga fokus jalan, jadi ga sengaja nginjek pecahan kaca itu” Jelas Ashaka menahan sakit dikakinya. “Te-terus kakimu gimana Bang?” Ashvina mulai panik “Siapapun tolong kami! Tolong kami disini!” Ashvina mulai berteriak minta tolong. “Ga usah teriak-teriak Vina” Ucap Ashaka dingin dan cuek.
“Kakimu berdarah Bang! Kita harus segera cari bantuan biar kakimu diobati Bang” Jawab Ashvina sedikit takut mendengar nada cuek dari Ashaka. “Gue gapapa, ini cuman luka kecil aja” Jawab Ashaka melembut, dan tersenyum kearah Ashvina. “Ga usah sok kuat, Bang. Aku tahu kamu ngerasa sakit kan? Sok kuat banget jadi orang” Ucap Ashvina mengejek, namun dengan nada khawatir. Ashaka sebenarnya merasakan sakit yang teramat sakit dari luka di kakinya, tapi dia tidak ingin membuat Ashvina khawatir. “Gue emang kuat, makanya gue gapapa” Jelas Ashaka menenangkan adiknya yang panik. Ashvina langsung merobek pakaiannya “Kamu mau ngapain Vin?” Tanya Ashaka bingung dengan tindakan tiba-tiba Ashvina. Setelah menyobek sedikit pakaiannya untuk dijadikan perban, Ashvina langsung mengikatkan di kaki Ashaka yang berdarah menggunakan sobekan kain itu. Dengan harapan agar darahnya berhenti keluar.
Ashaka langsung berjongkok didepan, dan membelakangi Ashvina. “Ayo Vin kita lanjut jalan” Jelas Ashaka. “Tapi kakimu berdarah bang! Aku ga tega kalau Abang harus gendong Vina, dengan keadaan kaki abang yang berdarah” Jelas Ashvina merasa bersalah dan khawatir. “Udah cepetan naik Ashvina!!!” Teriak Ashaka tiba-tiba dengan nada dingin, Ashvina merasa sedikit takut dan terkejut mendengar Ashaka berteriak. Ini pertama kalinya Ashaka berteriak didepan Ashvina, dan menyebutkan namanya dengan utuh. “Tapi…” Bantah Ashvina lirih, “Lo bisa ga sih ikutin aja kata gw!!!” Ashaka merasa kesakitan dan tanpa sadar, dia membentak Ashvina. Ashvina menurut dan naik ke punggung abangnya, supaya Ashaka dapat menggendongnya. Ashaka kembali berjalan dengan Ashvina yang berada di punggungnya, Ashaka tidak menggunakan sepatu dan berjalan menggunakan tumit kakinya di kakinya yang tadi terluka dan berdarah. Di situ Ashaka benar-benar merasa kesakitan, tapi dia harus tetap berjalan supaya dia dancadiknya bisa keluar dari hutan. “Gue harus kuat!!!… Walau rasanya sakit banget, tapi gue harus kuat supaya gue dan Ashvina bisa segera keluar dari hutan ini. Gue udah gagal jaga Ashvina, dan kali ini gue ga akan gagal untuk yang kedua kalinya” Gumam Ashaka dalam hati. “Aku tahu, Abang pasti kesakitan banget kan? Tapi Abang masih maksain gendong Ashvina, maafin Ashvina ya Bang… Kalau ga Kaki aku ga sakit… Mungkin aku yang akan gendong Abang” Ashvina juga bergumam dalam hatinya merasa sangat bersalah.
☆☆☆
Bunda, Ayah dan Arjuna. Ikut mencari dimana keberadaan Ashvina dan Ashaka, Semalam pihak sekolah menghubungi Bunda dan mengatakan bahwa Ashvina dna Ashaka dikabarkan hilang. Pagi ini mereka datang untuk ikut dalam pencarian. Bunda menangis karena selama 1 jam Ashvina dan Ashaka masih juga belum ditemukan, Ayah berusaha menenangkan Bunda. Arjuna terus mencari dengan tanpa ekspresi walau sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan kedua adik kembarnya. “Ka, Vin. Kalau kalian kembali, Abang janji Abang ga akan jahilin kalian lagi. Shaka Abang harap kau bisa jaga Vina, Vina Abang harap kamu kembali dengan Shaka” Arjuna bergumam di dalam hati mengkhawatirkan kedua adik kembarnya itu. “Ashvina! Shaka!” Teriak Narendra melihat Ashaka berjalan ke arahnya dengan Ashvina yang berada digendongannya, mendengar teriakkan Narendra. Arjuna, Bunda, dan Ayah berlari. Bunda terkejut dan menutup mulutnya, melihat jejak darah yang dibuat oleh Ashaka. “Ashaka kaki kamu kenapa? Ashvina juga kenapa?” Tanya Ayah Khawatir. “Kaki Vina keseleo Yah” Jelas Ashaka dan membiarkan Ayah mengambil alih Ashvina, Ayah sekarang menggendong Ashvina. “Yah kaki bang Shaka, Ayah obatin dulu kaki bang Shaka. Ashvina cuman keseleo Yah.” Jelas Ashvina menunjuk kaki Ashaka yang membuat jejak darah di sepanjang jalan yang dilalui oleh Ashaka.
“Enggak Yah, obatin dulu kaki Vina.” Jawab Ashaka sebelum dia pingsan, Arjuna dengan sigap menahan tubuh adiknya. Dan menggangkat tubuh Ashaka masuk kedalam mobil. Ashvina merasa sangat bersalah, kakinya sekarang diperban dan berjalan untuk seminggu ini menggunakan kruk. Dia duduk di kursi sebelah bankar Abangnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Ashvina menangis dengan menggengam tangan Ashaka yang terasa dingin. “Bang sadar ya, kalau abang sadar. Ashvina bakal kerjain tugas abang selama seminggu, Vina juga ga bakal nyuruh Abang untuk bersih-bersih selama seminggu.” Ashvina berbicara dengan Ashaka yang tentunya tidak akan ditanggapi oleh lawan bicaranya. Ayah masuk kedalam ruangan Ashaka, bersama dengan Arjuna. “Vin, ayo makan. Biarin Ayah ngomong berdua sama Shaka ya?” Jelas Arjuna lembut dan merangkul adiknya menuju kantin rumah sakit. “Hallo jagoan Ayah, tugasmu belum selesai. Masih ada dua perempuan yang harus kamu temui, dua perempuan yang selalu menanti kesadaranmu. Makasih udah laksanakan tugas dari Ayah jagain Adikmu” Ucap Ayah tegas dan sedih secara bersamaan. “Maaf Yah, tapi Ashvina terluka. Ashaka ga bisa jagain Ashvina, Ashaka gagal Yah” Ucap Ashaka lemah, Ayah terkejut melihat Ashaka tersadar. Langsung memencet tombol darurat untuk dokter. “Kamu berhasil Jagoannya Ayah, kamu udah jagain Ashvina. Kamu bukan gagal karena tetap saja kaki Ashvina terluka, itu bukan kesalahan kamu. Terimakasih udah jagain salah satu perempuan kesayangan Ayah, Ayah bangga denganmu” Jelas Ayah dan tersenyum lebar.
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
