Traumatic Childhood

“Traumatic Childhood”

✍️ Karya: Alikha Khanza N. — Kelas IX C

📖Selamat membaca

Kepala ini rasanya mau pecah. Tiga hari penuh aku tidak pulang karena padatnya pekerjaan di pabrik, menenggelamkan diri dalam kesibukan demi melupakan rumah yang makin terasa hambar. Tapi pelarian itu sia-sia. Seminggu setelah kepulanganku, Jean dinyatakan menghilang setelah bermain di taman bermain.

Aku sudah meminta bantuan polisi. Ratusan selembar pengumuman anak hilang sudah kutempel di setiap sudut kota. Namun, tiga hari berlalu tanpa ada kabar sedikit pun. Akhirnya aku pasrah. Aku pulang ke rumah dan mulai berhenti mengandalkan para polisi. Dengan bantuan buku detektif dan situs web di internet, aku mencoba mencari tahu sendiri. Saat itulah, aku mulai merasakan hal aneh di rumahku sendiri setelah Jean menghilang.

Semua dimulai dari meja ruang tamu. Di atasnya, angka 011 terlihat tersusun berantakan. Di samping angka itu, ada sebuah catatan usang yang huruf-hurufnya sudah tidak terlalu jelas, tapi untung saja masih bisa kubaca:

“Dad?…When will mom come back?”

Aku menghela napas berat, berjalan ke arah dapur. Puluhan kaleng berwarna kuning tergeletak begitu saja, berserakan memenuhi lantai-lantai rumah. Saat melangkah ke ruang makan, aku melihat sebuah bingkai foto hitam diletakkan terbalik di atas meja.

Gagang telepon di dinding mendadak bergetar sebelum berdering. Namun, perhatianku teralih oleh sesuatu di ujung lorong gelap yang menuju ke arah gudang bawah tanah.

Ada bau amis darah yang mendadak menguar bersinggungan dengan aroma dupa yang menyengat. Di batas antara cahaya ruang makan dan kegelapan lorong, berdiri seorang anak kecil. Ukuran tubuhnya persis seperti Jean. Dia mengenakan baju terusan hitam yang tampak terlalu longgar untuk ukuran tubuhnya.

Namun, yang membuat bulu kudukku berdiri adalah wajahnya. Wajah anak itu tertutup rapat oleh sebuah topeng rubah berwarna putih pucat dengan guratan merah darah di bagian mata dan pipinya.

“Jean?” panggilku, suaraku tercekat di tenggorokan.Anak bertopeng rubah itu tidak bergerak.

Dia membeku seperti patung. Di tangan kanannya yang pucat, dia memegang seuntai lonceng kuningan kecil. Anehnya, saat dia sedikit memiringkan kepalanya, lonceng itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hening yang tuli.

Secara perlahan, tangan kirinya bergerak menjatuhkan secarik kertas kecil ke lantai.

Begitu kertas itu menyentuh ubin, anak bertopeng rubah itu melangkah mundur, melebur bersama kegelapan lorong bawah tanah yang pekat.

Aku berlari mengejarnya, namun lorong itu kosong. Hanya ada aroma dupa yang tertinggal dan secarik kertas yang dia jatuhkan.

Aku memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada potongan-potongan huruf koran yang ditempel acak membentuk kalimat

“The fox knows who started the fire. 9 + 6 = 1. Mother didn’t leave,”

Jantungku berdegup kencang.
9 + 6 = 1?
Apa maksudnya?
Mengapa dia membahas tentang Istriku?

Otakku yang lelah memaksa tubuhku untuk turun ke gudang bawah tanah mencari anak itu.

Aku menyusuri tangga kayu yang berderit. Di sana, aku justru terjebak dalam labirin tumpukan barang-barang lama yang berdebu. Senter di tanganku menyorot ke segala arah, tapi anak bertopeng rubah itu lenyap.

Sebagai gantinya, aku menemukan sebuah kotak kayu terkunci dengan simbol rubah yang digores kasar di atasnya. Di samping kotak itu, ada robekan buku harian milik istriku yang sudah menguning, menyisakan satu baris tulisan tangan yang membuatku merinding

“My husband has been talking to himself in the bathroom mirror since April. He says there’s someone else in there.”

Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran gila itu. Aku kembali ke atas dengan tubuh gemetar, kembali menyusuri rumah yang kini terasa seperti labirin asing.

Semakin aku menyusuri rumah ini lebih dalam, semakin aku dibuat bingung oleh rumahku sendiri.

Bercak darah mulai kutemukan di mana-mana. Televisi tua di depan ruang tamu mendadak menyala sendiri, hanya menampilkan tayangan yang kresak-kresek penuh semut. Bercak darah itu juga menempel di sepanjang pegangan balkon dan anak tangga. Bahkan, yang paling banyak adalah di dalam kamar Jean sendiri. Aku mulai menyelidikinya dengan bingung.

Kringgg!

Tiba-tiba, sebuah telepon antik di dinding rumahku berbunyi. Aku berjalan cepat dan mengangkatnya. Di ujung sambungan, terdengar suara anak laki-laki yang lirih dan sangat tidak bertenaga. Itu suara Jean.

“Uhh.. Dad, when are you going to take me to the playground again?”

“Eumm…..Please dad, please stop doing that, maybe mom won’t like it either.”

“……….”

Sambungan telfon itu terputus begitu saja.

Setelah menerima pesan misterius itu, jantungku berdegup kencang. Aku berjalan kembali ke arah meja makan yang sudah berdebu. Mataku tertuju pada bingkai foto hitam yang terletak terbalik tadi. Karena penasaran, aku mengambil dan membaliknya.

Itu foto keluarga kami. Gambar empat orang di dalamnya tampak retak dan pecah. Salah satunya adalah Jean. Di bagian bawah foto, ada coretan dengan tinta darah yang menuliskan tanggal 15-4-2000. Di dalam foto itu, juga berdiri seorang pria tinggi besar dengan jas berwarna hitam.

Rasa penasaran menuntunku untuk menyelidiki halaman belakang. Bau yang sangat tajam dan busuk langsung menusuk hidungku begitu membuka pintu. Di dinding putih halaman, tertera kata

“E-A-J-N”

tergambar jelas, ditulis dengan darah. Kaleng-kaleng kuning itu bahkan berserakan sampai ke sini.

Pandanganku tertuju pada sebuah pohon raksasa yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Di balik pohon itu, ada tumpukan tanah yang menjulang tinggi. Pada batang pohon tua itu, tertera sebuah kode yang diukir dalam:

> ‘-••,•-,-••’
dan
> ‘-•-,••,•-••’

Sementara sisa kode lainnya sudah menghilang karena terkikis air hujan.Tujuan berikutnya adalah menuju ke kamar Jean. Kamarnya tampak biasa saja dari luar, tapi di pintu kamarnya ada sebuah gambar atau coretan aneh lagi-lagi dengan warna merah darah. Dua buah coretan lingkaran dan satu coretan lengkung. Jika digabungkan, coretan itu membentuk sebuah senyum smile yang tampak mengerikan. Di bawahnya, ada cap telapak tangan anak kecil.

Aku membuka pintu kamar itu. Napasku tercekat. Ada banyak sekali darah di atas ranjang Jean, bahkan sampai membentuk noda pekat yang merembes ke bawah kolong tempat tidur. Di dinding-dinding kamarnya, ada banyak coretan histeris bertuliskan

“Dad”.

Coretan smile yang mengerikan itu juga memenuhi cermin dan jendela kamar Jean.

Namun, yang paling ganjil adalah sudut kamar Jean. Ada sebuah boneka beruang raksasa yang berdiri di sana. Ukurannya sangat besar, lebih besar dari anak-anak berusia 10 tahun, bahkan tampak besar untuk ukuran orang dewasa. Di bagian bulunya juga terdapat bercak darah acak dan coretan smile itu.

Begitu aku melangkah keluar dari kamar Jean, tiba-tiba televisi di ruang tamu menampilkan sebuah siaran berita mendadak.

Sebuah rekaman buram memperlihatkan truk yang menabrak mobil sedan hingga menewaskan seorang wanita. Tanggal yang tertera di layar TV adalah 3-4-2000. Itu tepat beberapa minggu sebelum Jean dinyatakan hilang.

Dengan tubuh bergetar, aku mengecek kamar mandi. Di sana pun sama, aku menemukan banyak darah di mana-mana, lengkap dengan kaleng-kaleng kuning yang berserakan. Tepat di depan pintu kamar mandi, tergeletak sepasang sepatu berwarna hitam-putih. Ukurannya tampak terlalu besar bagi Jean. Dan di depannya, terlihat baju rumah berwarna biru milik Jean yang juga dipenuhi noda darah.

Setelah selesai mengecek semuanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Seseorang baru saja mengantarkan sebuah selembar kertas pengumuman tentang anak yang hilang ke rumahku. Aku mengambilnya dan membaca nama yang tertera di sana:
“Jane Quartein”

Kepalaku langsung berputar hebat. Detak jantungku semakin cepat seiring ingatan-ingatan mengerikan yang mendadak melintas di otakku.

Kringgg!

Telepon rumahku kembali berdering keras. Aku mengangkatnya dengan tangan yang gemetar hebat. Suara Jean terdengar lagi dari gagang telepon

“eumm…..Please dad, please stop doing that, maybe mom won’t like it either.”

Saat suara itu berputar, dari sudut mataku yang buram, aku melihat samar-samar bayangan Jean sedang berjalan mendekat ke arah telepon. Dia mengulurkan tangannya yang pucat, lalu menekan sebuah nomor darurat.

“Hello… eem.. police.. It seems like my father killed him… killed us.”

—-END—–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *