Satria Legenda – Kaliwungu
“Satria Legenda – Kaliwungu”
✍️ Karya: Arga Putra Waskita — Kelas IX H
Selamat membaca
SMA N 1 Angkasa, rumah para buku, tempat sebuah legenda tertidur nyeyak dalam debu waktu, serta akhir perjalanan para generasi penerus bangsa dalam menempuh pendidikan. Alkisah tentang awal mulanya desa Kaliwungu, tiada tangan yang kembali membuka nya, tiada mulut yang mengucap kembali perjalanan nya.
Akan tetapi…para pahlawan enggan mengakhiri tinta yang menulis cerita. Entah apa yang mereka lakukan, namun yang pasti, tali takdir…telah kembali terikat.
“LANGIT! MAU SAMPE KAPAN TIDUR TERUS!??”
Suara kencang nan berat menggelegar, hampir mirip seperti amukan macan. Ia bernama Pak Satya, guru sejarah yang terkenal galak, alias guru killer.
Seorang anak mengedik alisnya, menatap guru itu dari sela-sela tangan yang menutupi wajah. Sepertinya nyawa nya baru kekumpul.
“Aduhh pak, ngantuk banget nih, kasih diskon waktu pelajaran buat saya tidur dongg” celetuknya membuat seisi kelas tertawa.
“Diskon diskon, kamu pikir saya lagi jual sayur di pasar?? Pake diskon segala. Gak ada! Udah cepet bangun sebelum saya bawa roh kamu keluar dari badan”
Perkataan Pak Satya spontan membuat pemuda itu membenarkan posisi duduknya seraya memasang raut wajah ketakutan.
“Galak amat sih pak, kata kakek saya kalau galak-galak nanti cepet botak”
Satu kelas terbungkam dengan ke idiotan pemuda itu. Jemari temen Langit menoel bahu nya, lalu menunjuk kearah kepala pak Satya yang emang udah botak. Wkwkwkwk mampus ini si Langit.
“Maksud??”
Satu pertanyaan dari Pak Satya mampu menggetarkan jiwa Langit.
“Eeeee…anu pak, b-barang siapa yang penyabar nanti jadi duta sampo penumbuh rambut”
Satu kelas serentak menepuk dahi mereka. Aduh Langit, ini mah sama aja kayak lemparin minyak ke api.
“LANGIT”
“Y-Ya pak”
“Sebenarnya yang butuh sampo kayak gitu itu kamu, mau tau alasan nya?”
“Kenapa tuh pak”
“KARENA SEBENTAR LAGI BAKAL SAYA ACAK-ACAK RAMBUT KAMU!!!! KELUAR!!!”
Mata Langit melebar dan langsung lari terberit-birit keluar ruang kelas, membuat semua teman-teman nya kembali tertawa, sementara Pak Satya yang masih terkobar api amarah di kepala nya.
___________________
Pemuda itu berdiri dengan satu kaki, dua jari yang menjewer telinga nya, dan ekspresi pasrah seperti tidak punya semangat hidup. Ia bernama Cakra Langit, memiliki dua arti yang mengandung surga para awan, Cakrawala, atau langit, melambangkan keberanian nya yang bahkan mampu melampaui puncak ketinggian.
Dia sendiri lebih suka di panggil Langit daripada nama depan nya. Alasan nya? Cuma lebih keren aja. Langit ini tipe anak yang suka membuat onar, tapi selalu dapat nilai sempurna dalam pelajaran olahraga.
Kegiatan sehari-hari nya ya cuma keliaran sama geng nya, kadang juga gelud sama anak sekolah sebelah. Eitss tapi jangan salah paham, Langit tidak suka melakukan kekerasan tanpa alasan, jika hanya teman atau orang terdekatnya yang terserang, maka ia sendirilah yang akan turun tangan. Bahkan hingga ada kalimat seperti ini : “jika kau melukai awan, maka langitlah yang akan menurunkan gemuruh padamu”.
DING DONG…
Bel pulang sekolah telah berdenting, menandakan berakhirnya hari melelahkan bagi para murid, begitupula dengan Langit yang telah menyelesaikan masa hukuman nya.
“Langit, karena kamu tadi tidak mengikuti pelajaran, bapak ada tugas untuk kamu”
Ucap Pak Satya yang baru saja keluar dari kelas dengan beberapa buku pelajaran.
Langit langsung menghela napas melengking, ia ada janji untuk bermain futsal dengan teman-teman nya jadi tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas.
“T-Tapi pak—”
“Gak ada tapi-tapi! tugas kamu kosong semua, selalu bolos tanpa alasan, bapak udah baik hati mau kasih tambahan nilai melalui tugas ini”
Lagi-lagi Pak Satya membuat Langit membisu. Dia lebih mending tunduk aja daripada kena sambitan penggaris legendaris nih bapak-bapak botak.
“Yaudah deh pak, emang apa tugas nya?”
“Kamu coba tulis cerita asal mula terbentuk nya nama desa Kaliwungu, lalu bacakan hasilnya di depan kelas saat pertemuan berikut nya”
“Harus banget kah pak?”
“Kamu mau saya kasih nilai 0 di rapot akhir??”
“Gak deh makasih, hehe~”
“Yaudah sana pulang, ingat, besok tugasnya udah harus selesai”
“Siap pak~!”
Langit bersalaman dengan Pak Satya sebelum akhirnya pergi ke parkiran untuk mengambil motornya—menyalakan mesin, tak lupa mengenakan helm full-face dan melaju untuk menuju ke suatu tempat.
____________________
BREMMM—!
Sebuah motor meninggalkan garis merah kebiruan pada udara kosong, mencetak api dengan kecepatan mereka. Bukan langit namanya jika tidak ugal-ugalan di jalanan, dia melaju kencang seperti seekor chitah.
Aku gak tau ini keren atau bodoh, tapi…dia nyetir sambil teleponan dong, dia selipin Handphone pada helem nya.
“Woi ngit, lo dimana? Ini anak-anak udah pada ngumpul di mamah”
Fyi : Mamah itu sebutan geng nya Langit untu seorang ibu-ibu yang memiliki warung kecil di dekat sekolah, senantiasa menjadi langgakan dan tempat nongkrong bagi anak-anak sekolah Angkasa, udah mirip seperti basecamp sih. Mamah juga tidak keberatan dan menyambut dengan senyuman hangat, sudah menganggap mereka seperti anak sendiri.
“Sorry banget kal, tapi gua ada tugas dadakan dari Pak Satya”
Jawab nya dengan arah mata yang fokus pada jalanan.
“Lah, terus lo gak jadi ikut futsal?”
“Ya mau gimana, kalau nilai sejarah gua 0, mati gua ama bokap”
“Sama aja sih, kalau kita kalah dari sekolah sebelah gara-gara lo gak ikut, fiks lo mati ama anak-anak”
“Kagak takut gua, gua jadiin mereka donat satu-satu, gua jual di warung nya si mamah”
“Hahahaha, bisa aja lo, yaudah gua tutup telpon nya ya”
“y”
Setelah itupun sambungan terputus, meninggalkan Langit bersama stang motor nya. Dia kembali menambahkan kecepatan, bergegas untuk segera sampai ke tujuan.
____________________
Langit menghentikan motor di tempat parkiran, persis di sebelah jejeran kendaran lainnya. Ia melepas helem, mengibaskan wajah beberapa kali guna menjatuhkan semua keringat yang menempel.
“Gila, gerah banget, semoga di dalem ada AC, biar bisa ngadem”
Kakinya tergerak, menapak diatas jalanan yang telah di lalui banyak orang.
Di depan sana, sebuah bangunan besar berdiri kokoh, dinding nya berlapis warna putih bagaikan batu quarz, dengan puluhan kaca hitam yang dapat menerawang bagian dalam. Sebuah taman kecil menampilkan dedaunan segar, menari bersama nyanyian dari angin untuk menyambut para insan yang berdatangan.
Tempat itu adalah perpusda Kendal, jantung ilmu pengetahuan bagi masyarakat lokal.
Langit melangkah masuk, di dalam sana sudah ada seorang pustakawan berambut coklat rapi dengan kacamata sederhana. Pria itu tersenyum.
“Selamat datang. Tumben dating nya lebih awal, mau nyari komik lagi?”
Dia adalah pak Hendra, orang yang selalu menyambut Langit dan sudah mengenal anak itu sangat baik. Biasanya, Langit akan kembali seminggu sekali untuk membaca seri komik kesukaan nya, namun, minggu ini ia datang dua kali.
Langit menggeleng pelan disertai senyuman.
“Enggak pak, ini saya lagi nyari buku sejarah untuk refrensi tugas sekolah”
“Tunggu-tunggu, ini aku gak salah denger? Seorang Langit nyari buku sejarah? Astaga… kamu kesurupan ya”
“Ye… Bapak kira saya dukun pake kesurupan segala, lagian saya lagi gak ketempelan seta—eh ada sih tuyul satu, dia kumisan, agak gede, terus suka nya ngomel, barusan saya di marahin sama dia”
Di otak Langit udah kebayang-bayang muka nyeremin Pak Satya yang ngayunin penggaris kemarat di tangan nya sendiri, mana dimunculin tanduk plus ada api diatas pala botak nya.
Langit langsung merinding.
“Hiii! Bahaya deh pak, kayak nya saya ketempelan itu deh”
Pak Hendra tak bisa menahan tawa nya.
“Hahahaha! Bisa aja kamu, udah sana, buku sejarah ada di Lorong ke Sembilan, kalau gak ketemu nanti aku bantu”
“Oke pak”
Kasih jempol lalu cabut.
Langit telah berada di dalam Lorong sembilan, membias semua rak buku dengan mata biru tosca—membaca secara cepat judul buku secara satu-persatu.
“Mana sih, buku sejarah… buku sejarah… Ah ini dia!”
Jemarinya membelai punggung jejeran buku sebelum akhirnya menangkap satu yang cocok. Buku dengan judul ‘Babad Tanah Kendal’ ciptaan Ahmad Hamam Rochani.
Tangan Langit membuka halaman pertama buku, membalik kertas demi kertas yang begitu menyimpan banyak memori, setiap cerita yang tertulis mengandung maknanya tersendiri. Namun Langit sudah memiliki tujuan pasti, ia ditugaskan untuk mencari asal mula nama desa Kaliwungu. Maka itulah yang akan ia lakukan.
Dalam sebuah halaman, ia menemukan cerita yang tersembunyi dalam tirai sejarah. Sebuah alkisah, tentang dua legenda.
Cerita desa Kaliwungu :
Suatu hari, Sunan Katong datang ke wilayah Kaliwungu untuk menyebarkan Islam. Di daerah itu berdirilah Empu Pakuwojo, seorang tokoh sakti yang dahulu pemimpin dari tradisi Hindu-Buddha (atau petinggi Majapahit). Ketika Sunan Katong berusaha mengajak Pakuwojo masuk Islam, mereka tidak langsung sepakat. Pakuwojo sebagai seorang empu dan pemimpin spiritual enggan tunduk tanpa pembuktian. Pertarungan terjadi dengan sengit, tidak hanya adu fisik, tetapi juga adu keahlian batin dan ilmu gaib. Mereka saling kejar di darat dan di air. Pakuwojo sempat berusaha lari dan bersembunyi dalam pohon besar yang berlubang, berharap Sunan Katong tidak menemukan dirinya. Namun Sunan Katong, dengan ilmu dan ketajaman spiritualnya, berhasil menemukannya.
Saat ditemukan, Pakuwojo menyerah dan menunaikan janjinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, menyatakan masuk Islam. Di lokasi persembunyian Pakuwojo itu, pohon tersebut kemudian dinamai Pohon Kendal, sebagai simbol “penerang” setelah hatinya terbuka. Sementara sungai tempat pertarungan itu dikenal sebagai sungai Kendal, yang diyakini mengalami perubahan warna karena darah yang mengalir—menjadi ungu (wungu). Itulah yang kemudian mengilhami nama Kaliwungu (kali + wungu).
____________________
Langit terpukau, takjub, dan terkesima akan indah nya dunia dalam selembaran buku. Hanya cerita sesederhana ini namun mampu membuat darah nya mengalirkan rasa senang. Senyum langit perlahan mengembang, disaat ia ingin menutup buku—
“Cerita yang bagus, bukan…?”
Suara berat terdengar, bukan seperti milik manusia, melainkan hembusan kata dari rahang seekor monster.
Tubuh Langit membeku, tak mampu untuk menoleh kebelakang. Udara menjadi berat, sang waktu seakan enggan untuk berdetak, bahkan angin…menolak untuk mendekat. Dengan tubuh yang gemetar, Langit memberanikan dirinya, menatap tepat apa yang ada di balik tubuhnya—
—TARRRR!
Ruang hampa di langit-langit pecah seperti kaca yang di hantam palu, rekah oleh lekukan berwarna ungu, membuat retakan antar dimensi. Di balik sana, monster besar bertubuh gelap dengan lidah yang menjulur keluar, di berkati oleh kuku-kuku tajam, berdiri di hadapan si pemuda dengan senyum mengerikan.
“S-Siapa kau??”
Langit mencoba mundur namun naasnya kakinya malah terpeleset dan membuat nya jatuh.
Monster itu tak menjawab, dengan sekali lompatan ia melayang di langit-langit perpustakaan—mencoba menerkam mangsa tanpa pertahanan.
Pemuda itu spontan melindungi tubuhnya dengan tangan seraya menutup mata. Namun, di sanalah benang takdir kembali terhubung. Buku pada genggaman langit seolah terhembus oleh angin kencang memutar halaman dengan cepat.
Cahaya perlahan terpancar, melesatkan huruf-huruf aksara yang meledak saat mengenai tubuh raksasa itu—memaksanya untuk menjauh dari Langit.
Tak berhenti sampai di situ, buku yang berada pada genggaman langit bergetar hebat—berdenyut seolah itu hidup. Corak coklat sepenuh nya sirna, digantikan oleh dua sisi yang berbeda : warna ungu mendominasi bagian kiri, sementara yang kanan di warnai oleh kuning emas.
“HAH!?? Ini apaan?? Terus kok tiba-tiba ada huruf aksara yang keluar?? Sumpah otak gua ngehank”
Ia hanya mampu menelan salivia nya, tak mampu mencerna semua yang terjadi barusan.
Seketika dentingan tajam menggema di kepala Langit, namun suaranya begitu lembut, bagaikan pelukan Kasur empuk. Suaranya mirip dengan Sunan Katong yang diceritakan pada buku.
“Tenangkan dirimu, anak muda, dengarkan suara ku, dengarkan bisikan ku, monster yang kamu lihat barusan adaalah Buto Ganung, monster yang memakan banyak cerita dan melahap eksistensi mereka untuk menjadi lebih kuat. Gunakan buku ini, ia akan memberi kekuatan para legenda”
Langit terdiam, dirinya bahkan tak tau cara menggunakan benda itu.
“Gunain? Gimana caranya?”
Tanpa aba-aba, dua kartu kecil melesat ke tangan nya, satu berada di telapak kanan sementara satunya berada di telapak kiri. “Creez” bagian bawah buku terbuka, melihatkan celah kosong di masing-masing sisi yang cocok dengan kartu yang di genggam nya.
“Masukan kedua kartu tersebut ke dalam buku”
“T-Tapi—”
“Tidak ada waktu lagi! Monster itu akan segera bangkit!”
Apa yang di ucap nya benar, Buto Ganung telah terbangun dari pingsan nya, mengobrak-abrik seisi perpusda hingga porak poranda. Nyawa umat manusia berada di tangan Langit, jikalau ia tidak menggunakan nya, maka habis sudah mereka.
“ARGHHH! Bodoamat lah!”
Langit mengambil ancang-ancang, membias permukaan pada punggung kedua kartu itu sebelum ia maukan ke dalam wadah nya.
Lejends : Sunan Katong
Suara pria, mirip seperti mesin menyebutkan sebuah kata. Kartu berubah menjadi emas, berlapis cahaya senja bergambar hati penuh kasih, sebelum akhirnya masuk ke dalam celah buku.
Lejends : Paku Wojo
Suara itu kembali terhantar, namun dengan kalimat yang berbeda. Kartu kedua berubah menjadi ungu, memerkan warna scarlet berlukis keris penuh gemuruh sebelum Langit masukan juga ke dalam buku.
Di saat kedua eksistensi telah saling mengikat, tangan nya menghantam permukaan buku ke dada sebelah kanan nya sendiri—tepat di bagian jantung, saat itu juga cahaya suci menciptakan aliran kekuatan berwarna emas dan ungu yang bersatu menjadi satu kesatuan—menyulam tubuh sang pemuda dengan bentuk yang baru.
“Satria Legenda : Sakha Vira!”
CRACKK—BLASST!
Cahaya akhirnya menghilang, menunjukkan wujud sejati dari sang pahlawan. Tubuh langit tertutup zirah dengan dua sisi yang saling menggejola. Di sebelah kanan, ia berwarna keemasan dengan penutup kepala milik para ulama, sementara di sebelah kiri, ia berwarna ungu magenta dengan blangkon yang berada di kepala.
Ia melihat bahwa monster itu hendak menyerang seorang pustakawan, itu Pak Hendra. Darah nya mendidih, tangan nya mengepal. Dengan sekali hentakan.
DUARRR!
Tinjuan dasyat ia lontarkan, membuat suara bising seperti sebuah pistol. Langit memutar dengan kaki yang terayun, menendang Buto Ganung hingga tubuhnya menabrak dinding lebar.
Pak Hendra tak bisa berkata-kata, tubuhnya kaku seperti batu.
Di sisi lain, kaki Langit melagkah dengan gagahnya seolah ada roh tertua yang kini sedang mengendalikan raja si pemuda.
Buto Ganung kembali bangkit, kali ini amarah dari sang raksasa menyelimuti kulitnya dengan api hitam pekat dari jurang terdalam. Suara “ROAAAAR!” Kencang menandakan serangan berikut nya yang akan datang.
Buto Ganung mengayunkan tangan—
BRAKK!
Langit tepis menggunakan kakinya, menghantam tangan raksasa itu kebawah hingga tertancap di tanah, melihat celah besar, ia langsung berlari diatas langit Buto Ganung lalu melompat dan melakukan tendangan salto tepat di dagu lawan nya.
Buto Ganung kembali terpental, bahkan tanah tak kuasa menahan kekuatan mengerikan dari wujud pahlawan milik Langit. Belum selesai, ia merentangkan tanga, membiarkan cahaya membias dan menciptakan sebuah pusaka ‘Keris Naga Sasra Dapur Inten’ yang pernah Pakuwojo bawa kabur.
Dengan satu tebasan kuat, cahaya bergemuruh bagaikan topan yang menerjang, membelah tubuh raksasa hitam menjadi bagian-bagian debu yang berhamburan.
Sebelum Buto Ganung menghilang dari dunia, Langit berkata :
“Jika kau melukai awan, maka langitlah yang akan menurunkan gemuruh padamu”
Dan saat itulah Buto Ganung menghilang untuk selama nya, menandakan bangkit nya sebuah legenda.
ZENGG!
Zona waktu kembali berputar, Langit sudah beralih pada wujud manusia nya. Pemuda itu clingak-clinguk kayak anak ilang, bahkan Pak Hendra dan pengunjung lain nya ikutan. Perasaan tadi kayak ada pertarungan besar, kok tiba-tiba semuanya udah normal, mana bekas kerusakan langsung ilang.
Langit garuk kepala.
“Tadi gua mau ngapain ya?”
Mendadak langit jadi pikun dan akhirnya memutuskan untuk langsung pulang saja, tanpa sadar bahwa dirinya melupakan sesuatu yang pentinh.
____________________
Besok nya di sekolah
“Langit, mana tugas kamu??”
Suasana kelas langsung sunyi kayak ruang penghakiman.
“A-Anu pak, kemarin saya lawan monster, jadi saya lupa kerjain”
Si Langit langsung ceplos tanpa pikir Panjang, kayak nya kemarin dia mimpi lawan monster, yaudah sekalian jadiin alasan ajalah, emang agak-agak si Langit ini.
Pak Satya semakin di penuhi amarah mendengar ucapan Langit.
“BOCAH LIAR! BANYAK ALASAN! INTINYA NILAI SEJARAH KAMU 0!!!”
“LAH JANGAN DONG PAKKK!!!”
Suara teriakan itu bakal menjadi wasiat Langit pada dunia. Teman-teman sekelas nya tertawa, pak Satya menggila seperti setan, sementara Langit cuman bisa pasfah, yang menandakan… bahwa dunia sudah kembali damai.
Tanpa sadar, kilatan emas dan ungu dari sebuah buku tiba-tiba muncul di dalam tas Langit, berbisik pada semesta kalau cerita utama belum selesai sampai di sana.
TAMAT~
