17.35
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas VIII E yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“17.35”
✍️ Karya: Alikha Khanza Novania— Kelas VIII E
Selamat membaca
17.35
“ Another time’s “
17.35 saat azan berkumandang semuanya dimulai.dan saat azan berkumandang semuanya selesai.Ini bukan tentang cinta. Bukan tentang kebahagiaan.Bukan tantang kedamaian. Dan bukan tentang kenyamanan. Ini hanyalah kebingunan yang diceritakan sedikit lebih ringan. Hanya aku dan Tuhan yang melihat semuanya.
Semua yang mengubah hidupku selama ini. “Aries! Orion! Turun kebawah,kita udah mau buka puasa nih. Jangan kelamaan tidurnya” 3 buah piring tersaji hangat di meja. 2 piring berisi nasi goreng lengkap dengan banyak daun bawang. Dan 1 piring lain hanya nasi goreng polos tanpa apapun. Azan berkumandang. Makanan telah tersaji di meja makan setiap rumah.sorakan tak terucap setiap pasang mata hadir sepanjang waktu berbuka. Aries meraih sendok nya. Tapi piring itu tak disentuhnya sama sekali. Dan 1 piring lain dibiarkan mendingin oleh udara magrib. Sama sekali tak ada yang membuat Aries tertarik. Kecuali jarum jam yang mengarah pada jam 17.35. Dan selalu berhenti tepat 40 menit sebelum azan magrib dimulai.
****
“Kamu lagi gambar apa yon?” Aries melihat lihat sekilas gambar masa lalu Orion. Cukup sulit menemukan gambar yang menurutnya menarik. Karena adik nya itu sangat suka menggambar. Dan entah sudah berapa kertas gambar yang berakhir jadi tumpukan kertas di sudut meja belajarnya. Sampai ada satu gambar yang sudah sangat berdebu dan usang. Yang menarik perhatian Kael. Hanya gambar itu yang berbeda dari semua gambar lain Orion. Suram. Kenapa ya kok gambar ini beda sendiri? “Yon Kok gambar mu bukan pokemon Farfetch’d?kan kau fans garis keras nya.” Orion terusik akan perkataan kakaknya dan menoleh sebentar.
“Yang mana sih bang? Oh ini..Rion juga gak inget pernah gambar itu” Jawabnya enteng. Tangannya masih sibuk bergelut dengan krayon dan yah, kotor sekali.
Aries melipat kertas gambar itu menjadi 4 bagian dan menaruh nya di dalam saku celana jeans nya. “Ini gapapa kan abang bawa?” “Bawa aja orang udah usang”
****
“Mah 2 hari lagi kan lebaran,ries mau minta baju putih bersih ya ma” Ucapnya sembari memegang bagian bawah celemek mamanya yang sudah sedikit menghitam.
Dengan lembut,Mama mengusap anak puncak rambut anak kesayangannya itu. Iya, Es besok habis bagi bagi makanan ya..” Mendengar keriuhan mama dan kakak nya Orion pun ikut ikutan nimbrung ke dapur. “Ma Rion juga dibeliin kan?! Masa bang ries doang!” Rengek nya gemas. Dengan pemikirannya yang jahil. Aries ingin sekali mengerjai adik polosnya itu. “Iya lah kan kamu masih bocil,baju tahun kemarin juga masih bagus kan” Pasti setelah ini, adiknya itu pasti merengek dan itu menjadi piagam kemenangan tersendiri bagi Aries. Dan benar saja,si bocil Orion sudah merengek. Mata kecilnya sudah berkaca kaca. Air matanya sudah siap tumpah kapan saja. “Maa!! Liat kakak tuh!” Mama mengambil sehelai tisu dan mengelapkan nya ke wajah polos Orion. “Sudah sudah,besok mama belikan yang paling bagus untuk kalian”
****
“Ini ibu ibu silahkan,selamat dinikmati ya” Mama menyerahkan 5 buah kantong keresek di tangannya. Orion yang kepanasan dan sejak tadi memainkan mainannya tiba tiba menyeletuk “Mama..kapan beli baju nya?” Mama hanya bisa tersenyum dan mencubit pelan pelan pipi Orion. Sedangkan Kael hanya menghela naps panjang dan melirik adiknya tajam. Seolah memberi peringatan keras. “Sabar lah,ma ni kalau Rion masih ngerengek tinggal aja disini” Para warga yang datang hanya diam. Mereka hanya menatap mereka bertiga nanar. Bukan tatapan hangat. Tentu saja. Akhirnya ada salah satu ibu ibu paruh baya yang berininsiatif berbicara lebih dulu “Bu, Ibu Ritha sudah sehat?” “Alhamdulillah bu, terima kasih ya sudah bertanya” Jawab mama enteng. Tangannya yang keriput menyerahkan sebungkus nasi dan sebotol minuman yang dikemas rapi dalam sebuah kantong kresek.
****
“Mama liat nih,Rion ganteng kan pake baju putih ini?” Orion tersenyum lebar. Saking lebarnya terlohat deretan gigi putih miliknya. Aries tak mau kalah dengan adiknya. Pokoknya ia harus terlihat lebih dewasa dimata mamanya. “Gantengan juga Ries” “Udah udah..kalian berdua ganteng kok.” Mama selalu bisa memisahkan kedua kakak beradik yang tak akan pernah rukun tersebut. Kecuali kalau salah satunya… Seusai membeli baju,Keluarga kecil itu berjalan pulang. “Mama, Apa arti dewasa itu? Teman teman disekolah selalu bilang selalu ingin menjadi orang dewasa” Tanya Aries.Tangannya penuh dengan tas tas belanjaan mereka. Mama terdiam sebentar,memikirkan kata kata apa yang bisa dimengerti oleh anak sd itu. Sayang,dewasa itu ketika kita sudah bisa melindungi diri sendiri dan orang lain” “Berarti jika kita tidak bisa melindungi orang lain kita belum dewasa ya ma?” Aries kembali. Mamanya terdiam cukup lama. Tebakannya salah. Anaknya jauh lebih pintar dari dugaannya. Diam diam air matanya menetes perlahan.
****
“Bang sayap burungnya bagus yah…rion mau deh punya sayap kayak gitu juga bang” Karena tadi malam hujan,kini tanaman tampak lebih segar dan hidup. Burung burung berkicau nyaring. Ya kalau abang pengen yang lebih putih dan gede lah” Timpal Aries menahan gelak tawa yang bisa keluar kapan saja. Tok..tok..tok “Iya sebentar!” Mama langsung berlari menuju pintu depan. “Eh Mbak Erka,lama ya gak ketemu” Mbak Erka adalah kakak ipar dari Mama. Semenjak Ayah meninggalkan Aries dan Orion, Mbak Erka tidak pernah berkunjung lagi. “Eh iya,oh ya kamu udah mendingan kan? Soal 2 tahun yang lalu?” Mbak Erka berbicara pelan. Sebuah tas coklat berisi banyak kepingan mawar merah yang sedikit tersembul keluar. Menciptakan aroma khas yang…ah kalian pikirkan sendiri. Seketika wajah Mama memucat, tangannya mendingin.kepalanya berdenyut hebat Sekelilingnya gelap. Kobaran kobaran api. Sebuah mobil dan sebuah belati berputar mengelilingi kepalanya pingsan saat itu juga. “Maafin kami ya maa, kami cuma bisa nemenin sampai sini,mama jangan sedih sedih lagi ya.. Ikhlasin kami ya ma”
“Ma liat nih mimpi Orion punya sayap terkabul juga, sayapnya indah banget” Orion tersenyum tipis.matanya berkaca kaca. Senyum itu kini sudah pudar. Ma.
Aries tak sanggup menahan air matanya lagi. Air matanya pecah. Ia menggigit bibirnya sekencang mungkin,berusaha menahan isak tangisnya. Setiap waktu yang ia habiskan disini bersama adiknya. Hanya akan membuat luka mama tak kunjung tertutup. Lebih baik jika mereka tak pernah hadir kan?. “It’s better for mom to lose us, than for mom to lose mom’s future” Aries Nalendra Bumantara
Tidak ada yang akan abadi didunia ini.
Kita hanya manusia. Kita lemah. Kita rapuh. Maka, jangan bersedih atas kehilangan, karena itu
hanya waktu kita untuk istirahat sebentar dan kembali berkumpul di taman hijau yang tak akan
pernah layu.
TAMAT
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
