Lentera Cerita: Kenangan Ramadhan Dhani

Lentera Cerita hadir untuk pertama kalinya sebagai wadah karya siswa. Pada edisi perdana ini, cerpen dari siswa kelas IX B hadir dengan rangkaian kata sederhana namun penuh makna, mengajak kita untuk merenung, memahami, dan menemukan pelajaran berharga dalam kehidupan.

“Kenangan Ramadhan Dhani”

✍️ Karya: Donny Tri Muhammad — Kelas IX B

📖Selamat membaca

Di sebuah kampung kecil di lereng gunung, hidup seorang anak bernama Dhani yang
selalu menantikan datangnya Ramadhan. Setiap pagi sebelum fajar menyapa, ibunya membangunkannya pelan untuk sahur. Mereka berdua duduk di teras kayu sambil menikmati bubur sumsum hangat dan kurma manis. Dhani suka mendengar cerita ibunya tentang Ramadhan waktu kecil, saat bulan purnama seolah ikut berpuasa bareng mereka. Hari itu, Dhani janji dalam hati, puasanya tahun ini harus sempurna, tanpa mengeluh lapar sedikit pun.

Siang hari di bulan Ramadhan terasa panjang bagai jalan setapak menanjak. Dhani bersekolah sambil menahan dahaga, tapi senyumnya tak pudar saat melihat teman temannya berbagi makanan kecil di kantin kosong. Pulang sekolah, ia langsung bantu ibu menyiapkan takjil untuk tetangga. Mereka bagi-bagi gorengan dan kolak pisang ke rumah rumah sekitar, sambil saling bertukar cerita ringan. “Ramadhan ini bikin hati ringan, ya Bu,” kata Dhani sambil menyeka keringat. Ibu tersenyum, “Iya, Nak, puasa bukan cuma lapar perut, tapi juga hati.”

Malam tiba dengan kumandang adzan Maghrib yang merdu dari masjid. Keluarga Dhani berkumpul di meja sederhana, buka puasa dengan tempe goreng renyah dan sambal terasi pedas. Setelah shalat, mereka lanjut tarawih berjamaah, suara takbir bergema di antara pepohonan. Dhani merasa bahagia luar biasa saat melihat ayahnya, yang jarang pulang, ikut berlutut di sajadah. Di tengah malam, saat bulan sabit tipis mengintip, Dhani berdoa diam-diam untuk keluarganya yang utuh lagi.

Ramadhan berlalu seperti angin sepoi, meninggalkan Idul Fitri yang penuh tawa. Dhani memakai baju baru, memeluk ibu erat sambil saling memaafkan. Kampung ramai dengan takbir dan ketupat, tapi yang paling berharga baginya adalah pelajaran sederhana: puasa mengajarkan kesabaran dan kebersamaan. “Tahun depan lagi ya, Bu,” bisik Dhani. Ibu mengangguk, mata berkaca-kaca, tahu Ramadhan telah menoreh kenangan abadi di hati putranya.

Setiap cerita selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat memberi sudut pandang baru dan menginspirasi langkah kita ke depan.

✨ Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *