Lentera Cerita: Ramadhan Penuh Berkah
Lentera Cerita kembali hadir dengan kisah baru dari kelas IX D yang penuh makna, yang siap menemani dan menginspirasi. Disetiap rangkaian kata yang tertulis, tersimpan pesan kehidupan yang mengajak kita merenung, memahami, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga cerita kali ini dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
“Ramadhan Penuh Berkah”
✍️ Karya: Sinta Dewi Nur Laili — Kelas IX D
Selamat membaca
Di sebuah desa yang asri, tentram, dan damai ada seorang anak laki-laki yang bernama Bara yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Bara memiliki sifat yang malas, susah di atur, dan kurang bersyukur. Orang tuannya pun sudah lelah untuk membuang sifatnya Bara yang jelek. Cahaya matahari pun tiba menandakan pagi sudah tiba saatnya Bara untuk berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah Bara di suruh ibunya untuk makan terlebih dahlu, tetapi bara menolak karena jam sudah menunjukan pukul 07.45 wib saatnya dia berangkat karena gerbang sekolah akan di tutup 15 menit lagi. Sesampainya di sekolah Bara bertemu dengan teman temannya. Salah satu dari mereka menghampiri Bara dan bertanya. “tumben terlihat kurang semangat, kenapa Bar?” Bara pun menjawab “iya nih aku belum sarapan karena tadi terburu buru”, teman Bara bertanya lagi “tadi pagi kamu bangun jam berapa kok sampai nggak sempat makan?” tanya teman Bara. Bara pun menjawab “aku bangun kesiangan soalnya malam tadi aku sibuk main game di hp”. teman Bara menjawab “Astagfirullah berarti kamu tidak shalat subuh bar?” Bara menjawab dengan santai “tidak emang kenapa?” tanya Bara. Temanya pun menjawab “kamu sudah tahu kan kalau shalat di tingalkan akan mendapat dosa?” Bara menjawab “iya-iya aku tahu udah dulu ya ceramahnya aku mau masuk ke kelas”. Pelajaran di hari senin adalah pelajaran yang tidak di sukai Bara jadi selama pelajaran berlangsung Bara hanya tidur sampai pelajaran ini selesai. Malam pun tiba Bara di kamarnya sedang asik bermain hp. Tiba-tiba suara ibu mengejutkan Bara suara ibu terdengar sedang bertanya kepada Bara “Tugas mu sudah selesai belum nak, kok main hp mulu? Bara menjawabnya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa “hari ini tidak ada tugas bu” jawab Bara santai. Pagi pun tiba ibu sedang sibuk memasak sementara Bara masih tertidur. Dengan hati yang sabar ibu membangunkan Bara, bara pun bagun bergegas untuk mandi. Setelah mandi Bara tidak sempat untuk memakan makana yang sudah di siapkan ibunya Bara pun langsung berangkat sekolah dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di kelas Bara seperti biasa tertidur. Saat sedang menikmati tidurnya tiba-tiba perut Bara berbunyi
menandakan perutnya butuh asupan makanan seingat Bara ibu memasukan kotak bekal yang berisi makana di tasnya. Ternyata setelah di cek memang ada kotak bekal yang di susun dengan rapi tanpa pikir panjang Bara memakannya dengan lahap. Hari-hari berlanjut seperti biasa Bara yang masih bermain game larut malam, bangun kesiangan, tidak pernah sarapan karena karena bagunnya selalu terlambat, dan ibunya selalu sabar menghadapinya.Tetapi hari selanjutnya berbeda karena hari kamis sudah puasa Ramadhan pasti banyak kegiatan-kegiatan yang menganggu bara untuk tidur. Benar saja baru hari pertama puasa sekolah mengadakan banyak kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an setiap pagi, ada buka bersama, shalat dhuha, shalat dzuhur, dan katanya ada kajian semua murid harus ikut. Bara malas untuk mengikuti kegiatan semua ini maka di punya rencana untuk kabur di jam-jam tertentu. Ke esokan harinya Bara mendapatkan informasi dari wali kelas bahwa hari ini akan di adakan kajian bersaman ustadz dari luar sekolah diharapkan untuk semua murid mengikutinya. Bara yang mendengar itu semua rasanya tidak ingin mengikuti kajian tersebut tapi seluruh guru di sekolah sudah memasang cctv di semua sudut sekolah ini dan bagi yang ingin kabur siap-siap orangtua akan kami panggil ke sekolah. Bara yang mendengarkan itu semua ragu untuk kabur dan dia ingat perkataan ayahnya “jangan sampai ayah datang ke sekolahmu karena masalah yang kamu buat di sekolah jika ini terjadi kamu akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu itu”. Bara pun akhirnya mengikuti kajian di sekolahnya dengan rasa sedikit kesal pada gurunya. Kajian ini berlangsung di mushola sekolah. Singkat waktu ustadz itu datang dengan pakaian yang rapi lalu ustadz itu menyapa kami semua di mushola, Kata pak ustadz hari ini akan berceramah tentang “berburu pahala di bulan Ramadhan”. Lalu ustadz itu berbicara Barang siapa yang selalu membantu sesama manusia, rajin beribadah di bulan Ramadhan maka Allah akan memudahkanya urusannya di dunia akhirat, menghilangkan kesusahanya pada hari kiamat dan melipat gandakan pahala kebaikannya. Lalu ustadz itu berbicara lagi, bantulah ibumu yang sedang memasak makanan, hargai makanan yang ibu buat karena ibu memasak semua makana tidak mudah, laksanakanlah ibadahmu secara rutin agar kelak di surga bisa berkumpul dengan orang orang tercinta. Bara yang biasanya tidur saat ada orang ceramah kali ini tidak, cara ustadz menyampaikan itu semua membuat bara mengingat sikap jeleknya selama ini.
Saat kajian sudah selesai teman-teman Bara menghampiri, salah satu dari mereka berbicara “Bar, kamu beruntung loh dapat ibu yang sangat baik, ayahmu juga pekerja keras, kenapa kamu selalu mengecewakan
kedua orangtua mu? padahal mereka sangat peduli pada mu, Andai saja mereka orang tua ku aku tidak akan mengecewakannya”. Bara yang mendengarkan nasihat dari temannya merasa tersentuh hatinya Bara berjanji kepada temannya untuk membuang sifatnya yang jelek dan berubah menjadi yang lebih baik. Sesampainya di rumah Bara melihat ibunya sedang memasak tanpa pikir panjang Bara melepaskan tasnya dan membantu ibunya yang sedang memasak. Waktu buka puasa pun tiba Bara dengan semangatnya memakan makanan yang di buat ibunya,
Bara juga ikut ayahnya untuk shalat di mushola terdekat. Terdengar suara alarm yang mbangunkan Bara dari tidurnya, Bara pun bangun dan mendapati ibu, dan ayahnya sedang sahur tanpa pikir panjang Bara pun ikut sahur bersama dan melakukan shalat subuh berjamaah di mushola terdekat bersama ayah dan ibunya. Saat berjalan menuju mushola Bara berbicara “Bara janji sama ayah, dan ibu mulai bulan puasa ini dan bulan seterusnya bara akan berubah menjadi anak yang lebih baik dan selalu bersyukur, tidak nakal lagi”. Dengar Bara yang berbicara begitu ayah dan ibu merasa bahagia karena anaknya sudah mau berubah menjadi orang yang lebih baik, tidak sia-sia selama ini kita berdoa agar Bara di beri pentunjuk ke jalan yang lebih benar. Hari hari Bara selama bulan puasa tidak seburuk yang di pikirkan, Bara mengira bahwa dengana adanya bulan Ramadhan pasti akan membebani hidupnya. Ternyata dengana adanya bulan ramadhan tidak memebebani hidupnya malah membimbing ke jalan yang benar dan tidak menyesatkan, Bara mulai berubah Bara menjadi rajin bertadarus Al- Qur’an, mendengarkan cermah di hpnya, rajin shalat dan selalu membantu kedua orang tuanya. Teman- teman Bara pun meyadari bahwa Bara sudah berubah menjadi lebih baik. Terkadang langkah kecil yang kita ambail justru membawa perubahan yang baik dan dampak dari kebaikan itu akan di rasakan oleh orang di sekitarnya. Kata Bara dengan penuh bahagia. Puasa tahun ini memang berbeda dari yang lain, ceramah ustadz kemarin, dan perkataan teman teman Bara membuat Bara sadar akan pentingnya bersyuku apa yang sudah di berikan kepada dirinya, dan menunjukan bahwa perbuatan nakal tidak ada manfaatnya malah merugikan diri sendiri.
Hikmah: Jangan pernah meninggalkan ibadahmu karena sesuatu hal yang tidak penting dan
merugikan dirimu sendiri sebelum kamu merasakan penyesalan yang mendalam karena
Penyesalan panti akan datang di akhir
Setiap kisah selalu menyimpan makna yang berbeda. Semoga kisah kali ini dapat menginspirasi langkah kita ke depan
Lentera Cerita
Kisah penuh makna yang menghangatkan hati dan menuntun jiwa
